Malang – Universitas Negeri Malang (UM) melalui kegiatan penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan masyarakat melalui inovasi teknologi yang aplikatif. Salah satu bentuk implementasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan dan pemanfaatan ALOF Gen (Automatic Liquid Organic Fertilizer Generator), sebuah alat pembuat pupuk organik cair (POC) berbasis Internet of Things (IoT) dengan pendekatan sirkulasi vorteks yang mampu mempercepat proses fermentasi pupuk organik.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Magistyo Purboyo Priambodo, M.E., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang, bersama tim pengembang dari Pusat Sains dan Rekayasa (PSR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang. Program ini dilaksanakan melalui kemitraan bersama Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Bumiaji Sejahtera, dengan ketua Bapak Rakhmat Hardianto yang melibatkan petani sayur dan buah di wilayah Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil riset dan penerapan teknologi tepat guna untuk mendukung produktivitas sektor pertanian serta mendorong transformasi menuju sistem pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Bumiaji dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian hortikultura unggulan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas sayur dan buah. Berbagai produk pertanian dari wilayah tersebut menjadi pemasok kebutuhan pasar lokal maupun regional. Di tengah tingginya aktivitas pertanian, petani masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait kebutuhan pupuk yang efektif dan berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik cair menjadi salah satu alternatif yang semakin banyak diterapkan petani karena memiliki manfaat terhadap peningkatan kesuburan tanah, perbaikan struktur tanah, serta mendukung pertumbuhan tanaman secara alami. Namun, proses pembuatan pupuk organik cair secara konvensional masih memerlukan waktu fermentasi yang relatif lama sehingga memengaruhi efisiensi produksi. Menjawab tantangan tersebut, tim pengembang menghadirkan inovasi ALOF Gen yang dirancang dengan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem sirkulasi vorteks dalam proses fermentasi.

Prinsip kerja sirkulasi vorteks memungkinkan terjadinya aliran melingkar yang menghasilkan proses pencampuran bahan organik secara lebih homogen. Sistem ini membantu meningkatkan interaksi antara bahan baku organic (sampah sisa sayuran), mikroorganisme, dan unsur pendukung lainnya sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih optimal. Selain itu, penerapan teknologi IoT pada ALOF Gen memungkinkan pemantauan parameter fermentasi dilakukan secara real-time. Beberapa indikator seperti suhu, kondisi fermentasi, dan parameter pendukung lainnya dapat dipantau secara lebih terukur sehingga proses pengolahan pupuk menjadi lebih efektif.

Magistyo menjelaskan bahwa inovasi teknologi yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada aspek teknis, tetapi juga pada kebermanfaatan bagi masyarakat.

“Pengembangan teknologi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung. Melalui ALOF Gen, kami berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya mempermudah proses produksi pupuk organik cair, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi secara mandiri,” ujarnya. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan yang meliputi identifikasi kebutuhan mitra, pengembangan teknologi, pelatihan penggunaan alat, implementasi lapangan, hingga proses pendampingan kepada petani.

P4S Bumiaji Sejahtera sebagai mitra program memiliki peran strategis dalam mendukung transfer pengetahuan dan teknologi kepada kelompok petani. Melalui kolaborasi tersebut, petani memperoleh kesempatan untuk memahami penggunaan teknologi baru secara langsung serta mengembangkan praktik pertanian yang lebih inovatif.

Hasil implementasi awal menunjukkan capaian yang cukup positif. Penggunaan ALOF Gen mampu meningkatkan efisiensi proses fermentasi pupuk organik cair hingga sekitar 30 persen dibandingkan metode konvensional yang sebelumnya digunakan. Percepatan waktu produksi tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas pertanian. Petani dapat memperoleh ketersediaan pupuk organik cair dalam waktu yang lebih cepat sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan pemupukan dengan siklus tanam yang berlangsung.

Selain meningkatkan efisiensi waktu, proses fermentasi yang lebih optimal juga menghasilkan kualitas pupuk organik cair yang lebih baik. Pupuk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman sayur dan buah sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Petani yang terlibat dalam kegiatan juga menyampaikan respons positif terhadap penggunaan teknologi tersebut. Mereka menilai bahwa proses pembuatan pupuk menjadi lebih praktis, efisien, dan mudah dipantau dibandingkan metode sebelumnya.

Implementasi ALOF Gen juga menjadi bentuk nyata penerapan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan bahan organik yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Pendekatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah dan penguatan praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Implementasi ALOF Gen juga memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pada aspek SDG 8, pemanfaatan teknologi ALOF Gen mendorong peningkatan produktivitas sektor pertanian melalui efisiensi proses produksi pupuk organik cair. Percepatan waktu fermentasi hingga 30 persen memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan efektivitas kegiatan budidaya serta mengurangi biaya dan waktu produksi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi pertanian sekaligus mendukung pertumbuhan usaha pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Selanjutnya, pada pencapaian SDG 12, penggunaan ALOF Gen menjadi bagian dari implementasi praktik konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan bahan organik yang sebelumnya belum dioptimalkan menjadi pupuk organik cair bernilai guna. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang menekankan penggunaan kembali sumber daya secara lebih efisien, mengurangi limbah, serta mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan kontribusi terhadap SDG 17 melalui penguatan kolaborasi multipihak dalam pelaksanaan program. Sinergi antara Universitas Negeri Malang melalui tim pengembang Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM, dosen pelaksana, P4S Bumiaji Sejahtera, dan kelompok petani menjadi bentuk kemitraan strategis dalam mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan sektor pertanian. Dengan demikian, penerapan ALOF Gen tidak hanya memberikan dampak pada aspek teknologi dan produktivitas pertanian, tetapi juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan praktik produksi yang bertanggung jawab, serta pembangunan jejaring kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Negeri Malang kembali memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan hasil inovasi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Ke depan, tim pengembang PSR berharap ALOF Gen dapat terus dikembangkan dan direplikasi pada berbagai wilayah pertanian lainnya sehingga manfaat teknologi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga masyarakat, dan petani diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.