MANGGARAI TIMUR, NTT – Pusat Lingkungan, Mitigasi dan Kebencanaan (PLMK) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) bersama Tim Relawan UM turut memberikan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, 30 Agustus hingga 1 September, dengan menyasar masyarakat di tiga lokasi, yaitu Gereja Katolik Santo Eduardus Paroki Watunggong, Desa Wea, dan Desa Golo Ngawan.

Pendampingan psikososial dilakukan sebagai bagian dari respons kemanusiaan UM terhadap masyarakat terdampak bencana. Selain membantu warga mengelola kecemasan dan tekanan emosional pascabencana, tim juga memberikan intervensi khusus bagi anak dan remaja serta edukasi kebencanaan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Pada hari pertama, 30 Agustus, tim PLMK LPPM UM melaksanakan pendampingan psikososial di Gereja Katolik Santo Eduardus Paroki Watunggong. Sebanyak 112 peserta mengikuti kegiatan yang diawali dengan skrining psikososial, asesmen keluhan subjektif, dan pemetaan tingkat keparahan kondisi mental warga terdampak gempa.

Hasil skrining menunjukkan sebanyak 96 orang mengalami distres atau kecemasan tingkat ringan yang mengarah pada gangguan penyesuaian, sedangkan 15 orang mengalami reaksi stres tingkat sedang. Beberapa keluhan yang menyertai reaksi stres tersebut antara lain gemetar, rasa takut berlebihan, serta sering teringat kembali pada kejadian bencana.

Berdasarkan hasil asesmen, tim memberikan intervensi psikologis awal melalui Psychological First Aid (PFA), konseling individual suportif, latihan relaksasi pernapasan (breathing exercise), serta grounding technique. Intervensi diberikan untuk membantu warga mengelola respons emosional, menurunkan kecemasan akut, dan membangun kembali rasa aman setelah mengalami bencana.

Pada hari pertama ini, pendampingan juga diberikan kepada kelompok anak dan remaja melalui pendekatan Art Therapy dan Play Therapy. Aktivitas seperti folding paper, origami gambar, dan sulap gambar digunakan sebagai media ekspresi untuk membantu anak mengolah pengalaman pascabencana dengan cara yang sesuai dengan usia mereka.

Memasuki hari kedua, 31 Agustus, tim melanjutkan pendampingan psikososial di Desa Wea, Kecamatan Congkar. Sebanyak 16 orang mengikuti kegiatan, yang terdiri atas 7 orang tua dan 9 anak-anak.

Pendampingan pada hari kedua disesuaikan dengan kebutuhan peserta, dengan memberikan ruang bagi orang tua dan anak untuk menyampaikan pengalaman serta kondisi emosional yang dirasakan setelah bencana. Tim memberikan dukungan psikologis awal sekaligus membantu peserta memahami respons emosional yang dapat muncul setelah mengalami situasi traumatis.

Bagi anak-anak, pendekatan dilakukan secara lebih interaktif melalui aktivitas ekspresif dan permainan. Sementara bagi orang tua, pendampingan diarahkan untuk membantu mereka memahami kondisi psikologis anak pascabencana serta membangun lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman dan dukungan emosional.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan terdekat dalam proses pemulihan psikologis anak setelah mengalami bencana.

Pada hari ketiga, 1 September, kegiatan dilanjutkan di Desa Golo Ngawan, Kecamatan Congkar. Pendampingan diikuti oleh 44 peserta, terdiri atas 27 perempuan dan 17 laki-laki.

Berdasarkan kelompok usia, mayoritas penerima manfaat merupakan anak-anak berusia 6–11 tahun sebanyak 29 orang, serta 5 balita berusia 0–5 tahun. Peserta lainnya berasal dari kelompok remaja, dewasa, dan lansia awal.

Dominasi peserta dari kelompok anak menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan kegiatan. Tim menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak melalui aktivitas bermain dan ekspresi kreatif. Metode tersebut memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosi, berinteraksi dengan lingkungan, serta membangun kembali rasa aman setelah menghadapi pengalaman bencana.

Selain pendampingan bagi anak, tim juga melakukan asesmen dan memberikan dukungan kepada peserta dewasa sesuai dengan kondisi psikologis yang ditemukan di lapangan.

Lanjutkan Pemulihan melalui Konseling dan Psikoedukasi

Pendampingan selama tiga hari tidak berhenti pada intervensi awal. Berdasarkan hasil skrining dan asesmen, peserta yang membutuhkan dukungan lebih lanjut diarahkan untuk mengikuti psikoedukasi berkelanjutan, konseling kelompok, maupun konseling individual.

Tim juga melakukan koordinasi rujukan internal untuk penanganan psikososial lanjutan. Sebagian peserta diarahkan mengikuti konseling kelompok dan terapi ekspresif sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan fungsi sosial masyarakat.

Langkah tindak lanjut ini menjadi penting karena respons psikologis terhadap bencana dapat berlangsung dalam waktu yang berbeda pada setiap individu. Pendampingan secara berkelanjutan diperlukan agar masyarakat yang masih mengalami tekanan emosional dapat memperoleh dukungan sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Edukasi Kebencanaan untuk Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat

Selain memberikan pendampingan psikososial, tim PLMK LPPM UM juga memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat terdampak. Edukasi mencakup pengurangan risiko bencana, upaya mitigasi, kesiapsiagaan, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana susulan.

Edukasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memahami apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi darurat, tetapi juga meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Melalui rangkaian pendampingan psikososial selama tiga hari, PLMK LPPM UM bersama Tim Relawan UM berupaya menghadirkan dukungan yang menyentuh aspek fisik, psikologis, dan sosial masyarakat terdampak. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari komitmen UM untuk hadir bersama masyarakat dalam proses pemulihan pascabencana, khususnya melalui penguatan kesehatan mental, dukungan bagi kelompok rentan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan dapat kembali menjalankan aktivitas sosial secara lebih adaptif dan membangun ketangguhan dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.