NTT – Ancaman kekeringan dan kerawanan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mendapat jawaban dari sektor pendidikan dasar. Tim peneliti yang diketuai Prof. Subanji, M.Si. tengah mengembangkan model pembelajaran etnomatematika berbasis kearifan lokal NTT yang dirancang untuk mengubah cara siswa SD memahami numerasi sekaligus mitigasi bencana iklim. Penelitian yang didanai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dilaksanakan pada 21-25 April 2026 dengan tujuan memperkuat literasi numerasi siswa sekolah dasar (SD) sebagai strategi mitigasi bencana kekeringan yang kerap melanda wilayah tersebut.
Penelitian dilakukan di tiga wilayah strategis yang memiliki karakteristik geografis unik, yakni 10 SD di Kabupaten Kupang, 5 SD di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan 5 SD di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Di tiga wilayah ini, 20 SD menjadi lokus penelitian untuk menggali kearifan lokal yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum matematika dasar.
“Matematika bukan sekadar angka di atas kertas. Melalui etnomatematika, kami ingin agar siswa di NTT belajar numerasi melalui konteks nyata yang mereka hadapi sehari-hari, seperti cara menghitung pola tanam, luas bangunan tradisional yang disebut Ume Kbubu, logika komputasi dari struktur bahasa lokal Uab Meto, hingga pengelolaan cadangan pangan di musim kemarau,” tegas Prof. Subanji di sela-sela kegiatan.
Dukungan penuh datang dari tokoh adat setempat. “Kelestarian budaya NTT ditentukan oleh generasi muda. Jika anak-anak kita tidak mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri, maka tradisi dan kearifan lokal akan perlahan punah. Kehadiran budaya dalam pembelajaran menjadi jembatan pelestarian tradisi,” ujar Bapak Konstan Humau, tokoh adat Kabupaten Kupang saat pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD).
Sementara itu, praktik di lapangan mendapat respons positif dari tenaga pendidik. Ibu Marlina Kadir, Kepala Sekolah SDN Manefu, salah satu lokus penelitian, menegaskan bahwa pendekatan ini membawa angin segar. “Etnomatematika berbasis budaya lokal sangat penting dilakukan. Selain untuk memfasilitasi kemampuan berpikir siswa, program ini juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi guru. Kami para guru jadi belajar bahwa kearifan lokal yang kita kenal selama ini dapat dimanfaatkan di dalam pembelajaran menjadi metode baru yang lebih kontekstual” tegas Marlina.
Model ini tidak sekadar melatih berhitung, tetapi juga menanamkan nilai budaya dan adaptasi lingkungan. Dengan menggunakan konteks etnomatematika setempat seperti pola arsitektur rumah adat, sistem takaran tradisional, hingga perhitungan kalender pertanian lokal, siswa diharapkan lebih mudah memahami konsep numerasi sekaligus menanamkan kesadaran mitigasi bencana sejak dini.
Tujuan utama dari riset ini adalah mengembangkan model yang teruji untuk memperkuat ketahanan pangan. Siswa diajarkan untuk memahami data lingkungan secara numerik, sehingga di masa depan mereka mampu mengambil keputusan berbasis data dalam menghadapi tantangan alam di tanah Timor.
Program ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas pendidikan di NTT, khususnya dalam meningkatkan skor literasi numerasi nasional. Dengan mengaitkan pelajaran di kelas dengan isu krusial seperti mitigasi kekeringan, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif bagi siswa. Riset yang dipimpin oleh Prof. Subanji ini diharapkan dapat menjadi rujukan nasional bagi pengembangan kurikulum kontekstual di wilayah-wilayah yang memiliki tantangan iklim serupa, menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat NTT.
