Perubahan kondisi mata pencaharian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi komunitas nelayan skala kecil (small-scale fisher communities), terutama dalam mempertahankan keberlanjutan aktivitas ekonomi dan mengembangkan sumber pendapatan alternatif. Perubahan kondisi sosial dan ekonomi menuntut masyarakat nelayan untuk tidak hanya mengandalkan praktik penangkapan ikan, tetapi juga mengembangkan kemampuan kewirausahaan melalui diversifikasi usaha, pengolahan hasil perikanan, dan pemanfaatan peluang pasar. Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran penting dalam memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan kapabilitas kewirausahaan masyarakat pesisir. Isu ini menjadi salah satu topik yang diangkat oleh Kepala Pusat Pendidikan (PP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM), Bagus Shandy Narmaditya,Ph.D dalam konferensi internasional The Third Global Heads Forum in Education (GAELDH 2026) yang diselenggarakan di Hong Kong pada 30 Oktober 2026.
Roundtable Paper Presentation
Dalam kegiatan tersebut, Bagus Shandy Narmaditya, Ph.D berpartisipasi sebagai pemateri dalam sesi Roundtable Paper Presentation bersama empat akademisi dari berbagai perguruan tinggi, yaitu Evania Yafie, Ph.D (Universitas Negeri Malang, Indonesia), Zhe Cheng, Ph.D (Central China Normal University, China), Xin Gong, Ph.D (East China Normal University, China), dan Lee Soyoung, Ph.D (The Education University of Hong Kong, Hong Kong). Partisipasi ini menjadi bagian dari upaya Universitas Negeri Malang dalam memperluas diseminasi hasil penelitian dan pertukaran pengetahuan pada forum akademik internasional.
Dalam sesi tersebut, Bagus memaparkan hasil penelitiannya yang mengangkat pertanyaan tentang bagaimana pendidikan dapat membantu komunitas nelayan skala kecil mengembangkan kemampuan kewirausahaan di tengah perubahan kondisi mata pencaharian. Penelitian berjudul "How Can Education Support Small-Scale Fisher Communities in Developing Entrepreneurial Capabilities to Respond to Changing Livelihood Conditions?" ini menyoroti pentingnya pendidikan dalam membantu masyarakat nelayan beradaptasi, mengembangkan peluang usaha, dan menemukan alternatif sumber penghidupan. Penelitian yang dilakukan di kawasan pesisir Malang Selatan, Jawa Timur melibatkan nelayan, perempuan nelayan, anggota keluarga nelayan usia muda, tokoh masyarakat, hingga pemangku kepentingan pelatihan.
Pembelajaran dari Pengalaman, Nelayan Kembangkan Peluang Usaha Baru
Temuan menunjukkan bahwa pengembangan kapabilitas kewirausahaan masyarakat nelayan berlangsung melalui pengalaman sehari-hari, interaksi keluarga dan komunitas, eksperimen dalam menjalankan usaha, serta umpan balik dari pelanggan dan pelaku pasar. Proses pembelajaran tersebut berlangsung melalui pembelajaran informal yang berkembang dalam aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bagi masyarakat nelayan di Malang Selatan, melaut bukan lagi satu-satunya cara untuk memperoleh penghasilan. Sebagian masyarakat mulai mengembangkan aktivitas ekonomi lain, seperti berdagang ikan, mengolah hasil tangkapan, menjalankan usaha rumahan, hingga memasarkan produk melalui platform digital. Beragam usaha tersebut tumbuh dari pengalaman sehari-hari, interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar, serta keberanian mencoba peluang baru. Pengalaman berinteraksi dengan pelanggan dan pelaku pasar juga menjadi sumber pembelajaran bagi nelayan dalam mengembangkan usaha mereka. Perubahan tersebut tidak terlepas dari peran pendidikan dan pelatihan yang memberikan pengetahuan serta wawasan baru bagi masyarakat. Namun, pengetahuan yang diperoleh tidak serta-merta diterapkan begitu saja. Masyarakat menyesuaikannya dengan pengalaman, kemampuan, sumber daya, dan kondisi lokal yang mereka hadapi. Proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan dapat berlangsung di mana saja, baik melalui pelatihan formal maupun pengalaman langsung dalam menjalankan usaha.
Keikutsertaan dalam GAELDH 2026 diharapkan dapat memperkuat peran Pusat Pendidikan LPPM UM dalam mendorong pendidikan yang berdampak bagi masyarakat, memperluas kolaborasi akademik internasional, serta mendukung pengembangan kewirausahaan dan keberlanjutan mata pencaharian komunitas pesisir.


