MALANG – Isu lingkungan kembali diangkat oleh Universitas Negeri Malang (UM) dalam salah satu agendanya, yaitu Sarasehan dengan tema “Universitas Negeri Malang dalam Jejak Hijau Bambu: Teknologi, Ekonomi Sirkular, dan Keberlanjutan Lingkungan”. Agenda yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ini digelar di ruang seminar Gedung Kuliah Bersama A20 UM, Rabu (21/05/2025).
Pada Sarasehan ini, bambu menjadi tanaman yang dijadikan topik utama dalam mengatasi isu lingkungan yang sering terjadi di Indonesia. Materi ini dibawakan oleh Iman Rahman Heru Wijaya, Perhutsos PWNU Jatim, yang berpengalaman dalam bidang lingkungan. Dalam sesi materinya, Iman Rahman Heru Wijaya mengawali dengan masalah lingkungan serius yang terjadi di Blitar. Di sana terjadi alih lahan menjadi lahan pertanian, seperti jagung.
Menurut catatan dari Perhutanan Sosial Kabupaten Kabupaten Blitar, lahan kritis mencapai 2.000 hektar lebih sehingga mengakibatkan kelangkaan air bersih. “Pada saat konfirmasi itu, ternyata lahan sangat kritis, kritis, dan potensial itu tidak ada bedanya, sama-sama tidak ada barangnya (tanaman konservasi). Jadi sekarang kita diadaptasi pada masalah ini.” jelasnya. Untuk mendukung perbaikan ini, banyak pihak dilibatkan, seperti masyarakat, camat, dan organisasi sosial seperti Anshor. Hal ini dilakukan untuk mempercepat rehabilitasi lahan yang rusak. Salah satu daerah yang dinilai memiliki potensi yang baik untuk tanaman bambu ini adalah wilayah Gunung Kawi. Langkah penting lainnya yang dilakukan oleh Kabupaten Blitar adalah dengan memberikan SK dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada 67 desa. Dalam hal ini, masyarakat tetap mendapatkan akses hutan tetapi terbatas.
“Masyarakat mendapatkan akses untuk dimanfaatkan hutan dengan batasan-batasan tertentu.” ucapanya. Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam pendampingan di masyarakat. Hal ini dilakukan karena dianggap anggota NU memiliki banyak orang sehingga terdapat MOU dengan Kementerian. “Kami PBNU dianggap mempunyai kapasitas untuk melakukan pendampingan karena orangnya banyak. NU punya orang sampai ke tingkat ranting dan rata-rata petani hutan yang ada di pinggir hutan itu semua rata-rata NU.” ujarnya. Dengan adanya rencana-rencana sistematis, pendampingan, dan kerja sama dari masyarakat, Kabupaten Blitar berhasil keluar mengurangi krisis air dari masalah alih lahan sebelumnya.
Untuk rencana ke depannya, Kabupaten Blitar ingin direncanakan menanam 100 juta pohon dalam dua tahun ke depan. Ada juga gagasan untuk membentuk agrowisata berbasis bambu dan komunitas lokal untuk mendorong konservasi sekaligus ketahanan pangan. “Kami menargetkan setidaknya 2 tahun ini ada penanaman 100 juta di kawasan ini.” ucapnya. Kesuksesan dalam konservasi lingkungan ini juga dirasakan oleh pihak lain dari luar Kabupaten Blitar. Pak Heru dan pendamping lainnya pernah mendampingi 7 Desa di tiga kecamatan di Tulungagung yang memiliki masalah banjir saat hujan. Dengan melakukan hal yang sama, yaitu perencanaan sistematis dengan membentuk kelompok-kelompok kecil untuk menanam bambu di tahun 2020 dan di tahun 2023 banjir di daerah-daerah tersebut juga bisa diatasi. “Kita langsung bikin kelompok-kelompok kecil gitu, kita tanami mulai tahun 2020 itu masih baru. Di tahun 2023, dari orang-orang ini menyampaikan bahwa kok bisa, bambu yang hanya segitu bisa (menahan banjir)” tuturnya.
