Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) menyelenggarakan pameran produk di Graha Cakrawala, Sabtu (18/10/2025). Pameran LPPM UM tahunan ini sedikit berbeda. Sebab, pameran produk diselenggarakan bersamaan dengan Dies Natalis UM yang ke-71. Kegiatan LPPM UM ini memamerkan berbagai hasil penelitian dan produk inovasi karya mahasiswa dan dosen UM yang memiliki potensi untuk diimplementasikan ke masyarakat. Mulai dari produk inovasi saintek, humaniora, dan hasil kolaborasi riset lintas fakultas turut dipamerkan dalam acara ini. Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen dan petinggi Universitas Negeri Malang, serta mahasiswa. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Prof Dr Eng Yudi Darma MSi juga turut hadir dan memberikan sambutannya.

Ketua LPPM UM Prof Dr Markus Diantoro MSi menjelaskan, pameran ini bertujuan untuk mengenalkan karya-karya UM yang juga patut bersaing di ranah nasional. Tidak hanya sebagai universitas penghasil guru terbaik, tetapi pameran ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa UM sebagai universitas dengan penelitian dan inovasi yang juga berkualitas. “Tidak hanya dikenal sebagai penghasil guru saja, tapi kami juga tunjukkan bahwa setelah jadi universitas, produk-produk dan karya-karya selain pendidikan itu juga pantas berkiprah di nasional,” jelasnya. Dengan adanya inovasi-inovasi ini, UM komitmen untuk memperkuat ekonomi Indonesia. Dia menjelaskan bahwa dengan adanya inovasi ini akan meningkatkan awareness masyarakat tentang inovasi. Dengan meningkatnya awareness ini akan membantu kualitas SDM Indonesia, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan ekonomi Indonesia ke depannya. “Membantu masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu, tidak menggunakan menjadi menggunakan, yang tadinya lemah menjadi kuat. Kalau masyarakatnya kuat, ekonomi akan kuat,” ujarnya. Dari semua produk yang sudah selesai dikembangkan, ada banyak produk yang sudah terhilirisasi ke beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Trenggalek dan Wakatobi. Produk lainnya juga sudah terhilirisasi melalui kegiatan pengabdian yang sudah dilakukan LPPM sebelumnya untuk membantu kebutuhan masyarakat di daerah tersebut. “Itu kan barangnya, termasuk ide dan model ya kami berikan. Kami tampilkan dan barangnya pun ditaruh disana,” tambahnya.

2 Jenis Penelitian Ikut Pameran

Ada dua jenis penelitian yang mengikuti pameran ini, yaitu reguler dan institusional. Penelitian reguler merupakan penelitian atau produk yang diinisiasi oleh anggota kelompok itu sendiri. Sedangkan institusional merupakan riset yang dilakukan berdasarkan permintaan langsung sesuai kebutuhan UM. Walaupun proses seleksinya sama, di mana ada tahap proposal dan presentasi, ada perbedaan tipis antara keduanya. Jika reguler akan melakukan presentasi di depan reviewer, institusional akan langsung mempresentasikan penelitian mereka di depan petinggi universitas, termasuk rektor UM sendiri. Tahun ini, terdapat 22 tim yang berhasil masuk ke institusional. “Kalau itu khusus yang institutional itu presentasinya pimpinan, bukan dari reviewer. Tapi kalau ada yang nggak layak, masuknya reguler. Yang tahun ini kalau nggak salah itu ada 22 tahun ini,” paparnya. Dia berharap dengan adanya pameran LPPM UM makin dikenal dengan inovasi dan penelitiannya serta membangkitkan minat civitas UM untuk turut melakukan riset dan mengembangkan produk. Selain itu, dia juga berharap produk-produk unggulan dapat menarik pihak investor sehingga dapat dikembangkan lagi ke depannya dengan skala yang lebih besar. “Kami berharap ingin menginformasikan bahwa kita mampu. Yang kedua, nanti yang belum ikut, akan ikut pameran juga. Secara nasional kita ingin ada produk-produk yang dipamerkan sampai kepada investor yang nanti akan berminat,” harapnya.

Sedangkan Kepala Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM ketua pelaksana dari pameran produk ini Eli Hendrik Sanjaya SSi MSi PhD menambahkan, ini merupakan kegiatan tahunan UM. LPPM UM sebagai lembaga yang bertugas di bidang penelitian ditunjuk sebagai PIC untuk mengoordinasi pameran produk ini. “Kami di LPPM tentunya sebagai lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk mengoordinasi seluruh karya para peneliti di UM untuk ditampilkan di pameran,” jelasnya. Pameran ini menghadirkan 14 booth yang menampilkan produk unggulan hasil penelitian lintas fakultas yang sudah dikurasi oleh LPPM. Walaupun tidak ditampilkan semua karena kapasitas ruangan yang terbatas dan produk yang besar, terdapat kurang lebih 200 produk yang berhasil dikembangkan. “Kemaren produk yang kami kumpulkan yang di list itu 160 lebih. Tapi ada juga yang belum masuk list, jadi mungkin mungkin 200 itu ada,” ungkapnya. Produk-produk tersebut tidak hanya berfokus di bidang saintek, tetapi ada banyak produk dari bidang lain seperti seni dan sastra, social and humanity, design, dan lain-lainnya. Hal ini membuktikan kualitas penelitian UM yang tidak hanya berfokus di bidang sains dan teknologi, tetapi juga unggul di bidang lainnya. “Ada teknologi ya itu ada mobil, kemudian pembangkit listrik ya renewable energy. Jadi, cukup banyak produknya. Ada pertanian, ada design model, ada art and literature, ada social and humanity, jadi cukup lengkaplah,” ujarnya.

Drone Bersenapan Jadi Produk Unggulan

Ada beberapa produk unggulan yang dipamerkan langsung di acara ini, salah satunya adalah drone yang sudah dilengkapi dengan senapan. Produk ini merupakan kolaborasi UM dengan TNI. Selain itu, ada juga botol air minum yang sudah memiliki logo UM yang timbul di botolnya. Inovasi ini tentunya akan memudahkan proses daur ulang dan selaras dengan misi UM sebagai green campus. “Harapannya nanti ke depan UM bisa produksi botol sendiri dan nanti bisa recycle, harapannya ke depan,” katanya. Usai pameran, sebagian produk akan dikembalikan ke unit masing-masing dan beberapa produk akan ditampilkan di ruang display LPPM. Dia menegaskan pula bahwa tidak menutup kemungkinan jika produk-produk tersebut dipinjamkan untuk keperluan pembelajaran maupun untuk ditunjukkan kepada mitra. “Tapi tidak menutup kemungkinan kalau mau pinjam untuk kepentingan, misalkan, pembelajarankah atau ditunjukkan ke mitra, itu nggak apa-apa,” ujarnya. Sebagai penutup, dia berharap dengan adanya pameran produk ini dapat memotivasi peneliti UM lainnya untuk turut serta ke depannya dan bisa sampai ke tahap hilirisasi produk. Selain itu, dia juga berharap produk penelitian dan permasalahan yang ada di masyarakat atau industri cocok sehingga akan ada kerja sama antara keduanya. “UM punya potensi SDM yang cukup bagus dan banyak. Dunia industri dan usaha mungkin punya hal yang bisa dikerjasamakan atau permasalahan. Nah, ini bisa match, sehingga nanti bisa bekerja sama dan produknya itu bisa goal dan saling menguntungkan,” tutupnya.