Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) menyelenggarakan workshop penulisan proposal pengabdian kepada masyarakat di Aula Perpustakaan Lantai 2 UM, Senin (08/12/2025). Kegiatan LPPM UM ini digelar untuk mencapai target naiknya jumlah proposal hibah yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM). Workshop LPPM UM ini digelar dalam bentuk training of trainers (ToT) sehingga hanya dihadiri oleh dosen-dosen terpilih dari setiap fakultas. Mereka nantinya akan menjadi pendamping dosen-dosen lain yang menjadi calon penyusun proposal skema pengabdian kepada masyarakat (PKM).

LPPM UM Targetkan Posisi 10 Besar Jumlah Proposal Terbanyak

Ketua LPPM UM Prof Dr Markus Diantoro MSi menjelaskan tujuan dari kegiatan workshop ini sebagai ajang untuk meningkatkan keterampilan para dosen calon penyusun proposal pengabdian kepada masyarakat yang akan didanai oleh DPPM. “Kami ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan dari para dosen calon penyusun proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dana dari DPPM,” tutur Markus. Namun, workshop ini hanya dihadiri oleh sebagian dosen yang dipilih oleh fakultas untuk nantinya dapat memberikan pengarahan di fakultas masing-masing. “Yang hadir di sini hanya dosen-dosen terpilih oleh fakultas yang akan menjadi trainer di fakultas masing-masing. Jadi, ini bentuknya ToT biar lebih efektif,” ujar Markus.

Dia melanjutkan, dosen yang terpilih sudah berpengalaman dalam menyusun proposal pengabdian kepada masyarakat. “Dosen-dosen yang mengikuti ini juga sudah berpengalaman sebelumnya untuk menyusun proposal pengabdian kepada masyarakat, bukan membuat proposal dari awal,” ujar Markus. Selain dosen-dosen yang akan berpartisipasi dalam pengunggahan proposal hibah pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh DPPM, kegiatan ini juga menargetkan kolaborasi dengan mahasiswa. “Kami harus kerja sama antara dosen dengan mahasiswa. Dosennya untuk mengarahkan dan mengontrol, nah adik-adik mahasiswa bisa mengambil bagian teknologinya karena kan generasi Z cepat belajar internet gitu ya,” kata Markus. Dia mengatakan, ajakan untuk mahasiswa dapat dilakukan melalui mata kuliah menyusun proposal. “Ada mata kuliah yang dapat melatih mahasiswa untuk menyusun proposal, jadi outputnya berupa proposal skripsi maupun proposal hibah. Nanti kan dipandu sama dosennya, topik yang mau ditulis apa,” ujar Markus. Terkait hal itu, Markus yang juga menjadi dosen pembimbing skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UM itu menambahkan salah satu contohnya, yaitu anak didiknya yang sudah mulai membuat proposal. “Kalau anak bimbingan saya dan beberapa dosen ada juga yang sudah mulai membuat proposal ini, jadi kami juga mengadakan pertemuan setiap minggu untuk membahas rancangan selanjutnya,” kata Markus. Kemudian, Markus melanjutkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini saja, tetapi akan dilanjutkan workshop di setiap fakultas oleh para trainer yang sudah mengikuti kegiatan workshop saat ini. “Setelah ini juga akan ada kegiatan seperti ini di masing-masing fakultas, tetapi dibuat langsung penyusunan proposal. Kami menganjurkan yang diundang jangan dosen saja, tetapi plus mahasiswa langsung,” ujar Markus.

Dia menyampaikan harapan agar tujuan kegiatan workshop penulisan proposal pengabdian kepada masyarakat ini dapat tercapai. “Kami ingin output jumlah proposal yang di-submit ke sistem meningkat dan porsi untuk didanai lebih tinggi daripada tahun sebelumnya,” ujar Markus. Dia melanjutkan bahwa ingin menaikkan jumlah dana yang dibutuhkan di atas Rp15 miliar. “Kalau dari dana sekitar Rp15 miliar, kami ingin meningkatkan lebih dari itu untuk kedua proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Markus. Selain itu, Markus ingin menaikkan ranking penghabisan dana serta memperbanyak proposal yang di-submit dan didanai oleh DPPM. “Kami juga ingin rankingnya naik, meskipun ranking dana sudah cukup tinggi, tapi jumlah proposal yang di-submit agak turun secara nasional. Kami baru di ranking 13, ingin naik di 10 besar,” harap Markus.

Strategi Lolos Pendanaan Proposal PKM oleh DPPM

Workshop penulisan proposal pengabdian kepada masyarakat dihadiri oleh pemateri dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Okid Parama MS, dosen departemen biologi, ketua LPPM UNS periode 2019-2024, serta reviewer senior DPPM di bidang pengabdian kepada masyarakat. Dia menjelaskan, saat ini PKM dapat diikuti oleh dosen yang belum pernah mengikuti hibah. “Salah satu putusan krusial yang ada pada pembaruan panduan, yaitu skema formula sekarang bisa juga ditempuh oleh kotama dan mandiri. Jadi, itu kesempatan untuk Bapak/Ibu yang belum pernah mengikuti hibah nasional,” ujar Okid. Untuk para pemula yang baru ingin memulai PKM, terdapat persyaratan khusus, salah satunya adalah mencapai skor Science and Technology Index (SINTA).

“SINTA scorenya yang kemarin 50 sekarang menjadi 100. Saya pikir itu bukan hal susah apalagi untuk Bapak/Ibu yang cukup produktif menghasilkan luaran dan kegiatan yang sifatnya pembuatan buku atau publikasi,” lanjut Okid. Selanjutnya, Okid membagikan beberapa tips untuk membuat pengabdian kepada masyarakat menjadi lebih relevan dan berdampak secara publik sebagai berikut:
1. Meningkatkan potensi-potensi masyarakat di daerah sekitar.
2. Membuat program yang spesifik.
3. Sebisa mungkin hindari catatan dari reviewer.
4. Gunakan teknologi yang sederhana agar mudah diaplikasikan masyarakat.
5. Buat program yang semua bidang bisa masuk.

Okid juga menyarankan untuk membagi tugas dengan mahasiswa dalam pembuatan proposal ini. “Kami bisa bagi tugas dengan mahasiswa juga, misal yang membuat proposal dari Bapak/Ibu dosen, sedangkan yang membuat lampiran, bagian foto-foto, dan membuat video profil dari mahasiswa,” ujar Okid.

Tahapan yang Dilewati untuk Membuat Proposal PKM

Selain Okid, workshop penulisan ini juga dihadiri oleh pemateri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Prof Dr Agung Winarno MM yang juga sebagai dosen manajemen. Dia menjelaskan beberapa tahapan pengabdian kepada masyarakat. “Tahapan pengabdian setidaknya memuat hal-hal seperti sosialisasi, aksi, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, dan keberlanjutan program,” ujar Agung. Selanjutnya, dia juga membagikan tips kepada para dosen calon penyusun proposal skema PKM.

“Awalnya munculkan dari niat ingin membantu masyarakat dengan keilmuan, buat teknik pengkajian yang clear, kuasai administrasi untuk keberhasilan tahap awal, dan do it! Selanjutnya, pasrahkan kepada keberuntungan,” ujar Agung dengan canda. Di samping itu, dia mengingatkan para calon penyusun proposal PKM untuk mengunggah penelitian mereka sebagai latar belakang peneliti yang dapat dipercaya. “Rekam jejak peneliti berkontribusi besar dalam penentuan lolos tidaknya proposal, sehingga setiap ketua atau anggota wajib update publikasi HKI di sistem LITABMAS dan BIMA,” kata Agung.

Harapan untuk Peningkatan Kualitas dan Dampak PKM UM

Dengan adanya workshop penulisan proposal ini, LPPM UM berharap seluruh peneliti dapat membantu meningkatkan kualitas proposal pengabdian kepada masyarakat di lingkungan kampus. Melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa, pendampingan berkelanjutan, serta strategi penyusunan proposal yang lebih matang diharapkan mampu membawa UM naik ke posisi 10 besar nasional dalam jumlah proposal yang didanai DPPM. Dengan komitmen bersama, LPPM UM menargetkan tidak hanya meningkatkan jumlah proposal, tetapi juga memperluas dampak kebermanfaatan bagi masyarakat.