Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) menggelar workshop dan klinik penyusunan proposal penelitian hibah internasional.Workshop diikuti oleh para dosen UM berlangsung penuh antusias pada Kamis (22/1/2026) di Aula Lantai 9 Gedung Rektorat UM. Kegiatan berlangsung dua hari, 22-23 Januari 2026 dengan menghadirkan pemateri internal dan eksternal. Lewat kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan lingkungan produktif untuk mencapai target hibah internasional.
Tujuan Workshop dan Klinik
Kepala Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM sekaligus Ketua Pelaksana, Eli Hendrik Sanjaya, SSi, MSi, PhD mengatakan tujuan dari Workshop dan Klinik Penyusunan Proposal Penelitian Hibah Internasional Tahun 2026 adalah untuk meningkatkan capaian dana hibah internasional.“Tujuannya adalah kami ingin meningkatkan capaian dana hibah internasional para dosen UM,” ujar Eli Hendrik Sanjaya, Kamis (22/1/2026).Eli mengatakan kegiatan rutin tahunan ini juga bertujuan untuk meningkatkan semangat para dosen UM dalam menyusun proposal penelitian hibah internasional.“Pelatihan ini diselenggarakan setiap tahun untuk meningkatkan semangat teman-teman untuk menyusun proposal hibah internasional dan menambah wawasan mereka. Sehingga nanti banyak yang lolos proposalnya di hibah internasional,” ujar Eli.
Sasaran workshop dan klinik proposal kali ini adalah dosen yang berminat untuk mendapatkan dana hibah internasional. Sebagian peserta juga diisi oleh undangan untuk dosen-dosen yang menempuh pendidikan di luar negeri dan dalam negeri yang berpotensi untuk mengembangkan proposal penelitian hibah internasional.Selain itu, LPPM UM juga memfasilitasi para dosen yang berminat mencari dana hibah internasional melalui sistem yang telah terbangun.“Kami ada sistem yang di situ berisi data base hibah internasional, namanya PIVOT, nah dari situ para dosen bisa mencari hibah apa yang cocok dengan kepakaran masing-masing,” kata Eli.Workshop selama ini dari tahun ke tahun telah berhasil meningkatkan jumlah proposal penelitian yang mendapatkan dana hibah internasional.“Sebelumnya yang dapat hibah sekitar kurang dari 5 orang. Sejak kami menyelenggarakan pelatihan di akhir 2023, kemudian 2024 ada 8 orang, 2025 meningkat jadi 10 judul bisa jadi lebih karena ada yang belum mengisi rekapitulasi,” tutur Eli.Lewat kegiatan ini diharapkan jumlah proposal penelitian yang didanai hibah internasional terus meningkat.“Kami inginnya terus meningkat, mungkin tahun ini paling tidak bisa 15 proposal ya,” harap Eli.
Apresiasi dari UM untuk Dosen yang Submit Proposal Hibah Internasional
Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih SPd, MAg mengatakan, pihaknya selalu mendorong para sivitas akademika untuk terus berkarya. Kesempatan selalu terbuka untuk terus mengakses pendanaan dari luar negeri.Karena memang pendanaan internasional sangat penting untuk menjadi tolok ukur reputasi internasional UM.“Ini penting karena salah satu tolok ukur reputasi internasional dilihat dari seberapa besar kerja sama internasional yang kita lakukan,” tegas Munjin.Karena itu, UM berusaha untuk memberikan apresiasi kepada para dosen yang mengunggah proposal penelitian hibah internasional.“Sedikit bocoran untuk 2026, kami dan bidang 2 sudah bersepakat untuk Bapak/Ibu yang menyusun hibah proposal internasional akan kita kasih insentif,” ujar Munjin.Apresiasi tersebut diharapkan dapat menjadi penyemangat para dosen dan peneliti UM untuk berkarya dengan mitra dari luar negeri. Sehingga diharapkan dapat terus menambah jumlah mitra luar negeri.“Mohon dua hari ini kita maksimalkan agar menghasilkan proposal yang layak didanai,” katanya.Munjin juga mendorong masing-masing Fakultas di UM dapat berkolaborasi. Proposal yang dikirim melibatkan dosen lintas fakultas untuk menunjukkan kolaborasi.
Tips dan Trik Proposal Lolos Pendanaan Hibah Internasional
Researcher dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Angga Hermawan, PhD membagikan tips agar proposal dapat meraih pendanaan hibah internasional.“Pertama cari apa yang diinginkan funding buat proposal yang unik, perbanyak jejaring internasional, dan belajar dari masa lalu,” kata Angga.Para dosen dan peneliti harus mengerti yang diinginkan oleh funding. Sehingga harus memahami dan mengetahui proposal yang diminta. Pemahaman ini sangat penting sebelum berlanjut ke tahap penilaian proposal.Biasanya funding akan menyaratkan adanya multidisipliner dalam suatu penelitian. Sehingga memang hampir setiap funding menyaratkan adanya global kepakaran, dan bukan hanya satu kepakaran saja.Angga juga berbicara soal penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan proposal penelitian.“Boleh kok pakai AI tapi untuk brainstorming, kita manfaatkan mereka untuk mengkritisi proposal kita bukan bikin proposal dari awal,” tuturnyaAngga.berpesan, para dosen harus menemukan keunikan penelitiannya agar memberikan ciri khas yang menarik bagi funding.“Kita nggak harus jadi yang terbaik, tapi kita harus bisa jadi unik dan mencirikan apa yang kita tuangkan di proposal tersebut,” jelasnya.Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan klinik penyusunan proposal penelitian hibah internasional yang memfasilitasi para dosen dan peneliti UM untuk berkonsultasi terkait proposal.


