Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) dipercaya menjadi tuan rumah International Science, Technology, Innovation Centre (ISTIC) 2025 di The Shalimar Boutique Hotel, Rabu (24/09/2025). Menariknya, LPPM UM menjadi pelopor universitas yang bekerja sama dengan pihak internasional. Mengusung tema “STI Policy: Artificial Intelligence for Climate Learning Futures”, forum internasional ini dihadiri para peneliti hingga kementerian untuk membahas peran Artificial Intelligence (AI) dalam menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus membangun arah kebijakan sains, teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan.
LPPM UM Pelopor Kerja Sama dengan ISTIC
UM sedang mempersiapkan pemerataan inovasi pendidikan dan penelitian di masyarakat, salah satunya bekerja sama dengan ISTIC. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara LPPM UM, International Science, Technology, and Innovation Centre for South-South Cooperation under the Auspices of UNESCO (ISTIC-UNESCO), dan NAM S&T Centre. Kerja sama ini fokusnya pada penguatan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang. ISTIC 2025 tidak hanya bermanfaat untuk penguatan pembangunan di negara berkembang. Rektor UM Prof Hariyono mengungkapkan, kegiatan ini membawa manfaat besar bagi UM untuk membangun jejaring dosen dan mahasiswa dalam belajar bersama.
“Pertama kali UM melakukan kerja sama internasional dengan ISTIC. Tujuannya untuk membangun jejaring para dosen agar bisa melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya riset publikasi,” ujar Rektor UM Prof Hariyono pada Rabu (24/09/2025). Di samping itu, mahasiswa UM juga mendapatkan manfaat berupa akses untuk memanfaatkan potensi 12 negara yang tergabung sebagai proses belajar bersama. “Para mahasiswa punya akses bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di 12 negara, termasuk ISTIC sebagai proses belajar bersama,” lanjut Prof Hariyono.
Artificial Intelligence (AI) sebagai Media Edukasi Perubahan Iklim
ISTIC 2025 mengangkat tema dari isu yang disoroti secara global yaitu tentang AI dan perubahan iklim. Dengan mengusung tema ini, ISTIC 2025 menekankan bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi sarana inovatif untuk merespons tantangan perubahan iklim. Selain itu, juga membuka ruang bagi pembelajaran transformatif yang mendorong generasi muda mengembangkan pola pikir kritis. Dirjen Saintek Prof Dr Ahmad Burhani MA mengatakan, pihaknya sedang melaksanakan pembelajaran transformatif untuk mengubah pola pikir mahasiswa. “Saat ini, kami sedang mengerjakan pembelajaran transformatif yang dapat mengubah pola pikir mahasiswa melalui pembelajaran di universitas,” ujar Prof Ahmad Najib Burhani.
Sementara itu, Ketua LPPM UM Prof Markus Diantoro mengatakan, kegiatan ISTIC memiliki lima topik yang kemudian dikerucutkan untuk berfokus pada AI, pendidikan, dan perubahan iklim. “Acara ini sebenarnya berawal dari 5 topik, kemudian mengerucut pada AI dan education, lalu ditambahkan climate change,” ujar Prof Markus Diantoro. Dia juga mengatakan, acara ini memiliki dua luaran dari usulan kebijakan masing-masing negara dalam forum dan luaran utama berupa buku yang dapat menjadi pembelajaran. Sebagai tuan rumah, LPPM UM membuka kesempatan luas bagi peserta untuk saling bertukar gagasan, membangun jejaring, hingga merancang strategi bersama dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pembelajaran iklim. Tidak hanya fokus pada isu teknologi, forum ini juga menyoroti kebijakan sains, teknologi, dan inovasi (STI) yang bisa mendorong kolaborasi lintas negara.
Untuk diketahui, forum internasional ISTIC 2025 dihadiri para peneliti dari kampus hingga kementerian dari 12 negara, yaitu Kamboja, Mesir, India, Iraq, Kenya, Malaysia, Myanmar, Nepal, Zambia, dan Indonesia. Forum ini diselenggarakan selama empat hari pada Senin (22/09/2025) hingga Kamis (25/09/2025). Tidak hanya berisi workshop saja, para perwakilan dari masing-masing negara dapat mengikuti pembelajaran di UM, yang kemudian dilanjutkan dengan city tour dan makan malam dengan wali kota Malang pada hari terakhir.


