MALANG – Perjuangan Kartini mengenai emansipasi wanita menjadi topik utama diskusi pada acara Bincang Buku “Trilogi Kartini” yang diadakan oleh Universitas Negeri Malang. Acara yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM ini berlangsung di seminar room Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19, Senin (19/05/2025). Acara ini makin menarik dengan kehadiran mantan Menteri Pendidikan dan Budaya RI periode 1993-1998, Prof Dr-Ing. Wardiman Djojonegoro yang juga sebagai penyusun dan penulis buku “Trilogi Kartini”. Selain itu, hadir Rektor Universitas Negeri Malang sekaligus sejarawan Prof Dr Hariyono MPd sebagai pengulas utama buku ini. Ketua LPPM Universitas Negeri Malang Prof Dr Markus Diantoro MSi mengatakan, acara Bincang Buku ini menjadi penting diadakan oleh LPPM UM untuk ide baru penelitian akademisi dari bidang sosial humaniora. “Karena ide-ide itu bisa jadi dari dari tokoh, bisa berasal dari referensi utama karena menulis buku yang berhalaman-halaman itu tidak mudah,” ujarnya.
Acara diawali oleh sambutan dari Menteri Keuangan RI Sri Mulyani. Dalam sambutannya, dia banyak menyampaikan tentang pentingnya membaca dan memahami pemikiran asli Kartini. Dia berharap dengan membaca buku ini dapat membangkitkan kesadaran dan motivasi seluruh generasi muda dalam memperjuangkan perempuan serta bangsa secara keseluruhan. “Karya Kartini yang hadir pada hari ini akan membuka mata kita. Saya berharap melalui dan membaca buku “Trilogi Kartini”, generasi muda akan terus mendapatkan pemahaman, kesadaran, dan motivasi untuk melihat tantangan bangsa kita sendiri,” ucap dia dalam sambutan onlinenya. Acara dilanjutkan oleh sambutan dari Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang Prof Dr Ahmad Munjin Nasih SPd MAg. Dia juga menyampaikan bahwa buku “Trilogi Kartini” ini memiliki konsep yang masih relevan di mana ada penggabungan antara dunia pendidikan dan dunia industri. “Konsep itu sampai hari ini masih menemukan relevansinya sekalipun dengan bentuk-bentuk yang berbeda,” jelasnya di dalam sambutannya. Audiens dibuat terkesima dengan adanya segmen pembacaan fragmen surat Kartini oleh A. Elwiq Pr dan Muh Asyrofi Al Kindi MSc. Keduanya membaca fragmen surat Kartini dengan nada puitis yang membuat pendengarnya kembali merenungkan perjuangan yang dilakukan Kartini pada zaman itu. “Dan sekiranya-saja undang-undang di negeri saya mengizinkannya, tidak ada yang lebih saya inginkan dan perbuat selain menyerahkan diri saya sepenuhnya untuk pekerjaan dan perjuangan perempuan baru seperti di Eropa,” ucap Elwiq dengan nada puitisnya saat membaca salah satu kalimat fragmen surat Kartini.
Buku Terinspirasi dari 1.400 Surat Kartini
Di sesi inti acara LPPM UM ini, Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro sebagai penyusun dan penulis buku “Trilogi Kartini” menjelaskan latar belakang dan inspirasi awal dari terciptanya buku ini. Walaupun akhirnya ragu karena surat Kartini ini sangat banyak, sekitar 1.400 surat, dia menganggap proyek ini sebagai penghormatan atas perjuangan perempuan muda yang memiliki visi tinggi. “Saya pikir sebagai karya hidup dan sebagai penghormatan saya kepada seorang perempuan Indonesia yang berpisah dalam umur yang masih di bawah 20 mempunyai pikiran mempunyai visi yang tinggi termasuk emansipasi dan independensi daripada perempuan Indonesia,” ujarnya. Dalam sesi materinya, penulis juga menjelaskan tentang isi dari struktur “Trilogi Kartini”. Dia mengatakan, ada 3 jilid: jilid I yang berisi 179 surat yang terbanyak di Indonesia dan dunia, jilid II yang berisi riwayat hidup, dan jilid III menjelaskan tentang inspirasi Kartini untuk kesetaraan gender di Indonesia. Walaupun ada 3 jilid, tetapi penulis menyarankan untuk membaca dari jilid 2 untuk membangun pemahaman tentang latar belakang Kartini terlebih dahulu. “Jadi, yang sudah beli buku, silakan baca jilid II terlebih dahulu. Itu lebih interesting, lebih hidup,” tuturnya. Di akhir acara, dia mengajak dan membuka untuk ide-ide dari peneliti lain maupun mahasiswa tentang istilah kesetaraan gender yang cakupannya sangat luas. Sementara itu, Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd melanjutkan sesi berikutnya dengan mengulas buku “Trilogi Kartini”. Dalam ulasannya, dia banyak membahas tentang buku yang sangat memiliki bahasa yang indah dan sangat penting untuk dipahami, terutama mengenai kesetaraan gender Kartini. Seperti yang kita ketahui, surat-surat Kartini yang asli itu berbahasa Belanda. Pak Har, sapaan akrab Profesor Hariyono, menjelaskan walaupun surat-surat tersebut ditulis dalam bahasa Belanda, terjemahan bahasa Indonesia di buku ini juga tidak kalah halus. Hal ini menunjukkan kapasitas linguistik penulis yang luar biasa. “Sehingga ketika dua teman kita tadi membacakan, lalu bulu kuduk kita merinding. Bukan takut ada hantu, tapi karena dentuman suara dan diksi kata-kata yang ditulis oleh Kartini,” terangnya. Dia juga membagikan tips saat membaca buku ini untuk tidak terjebak dalam anakronisme, di mana membaca dalam konteks zaman sekarang yang akan menimbulkan interpretasi yang meleset. Hal ini dia tekankan karena kondisi saat zaman Kartini hidup dan zaman sekarang sangat jauh berbeda di banyak aspek. “Di dalam buku ini, beliau juga mengingatkan kepada kita untuk tidak terjebak pada anakronisme,” tegasnya. Sebagai penutup sesi materi, Profesor Hariyono sangat mengapresiasi adanya buku ini yang membahas tentang perjuangan Kartini. Banyak isi surat-surat Kartini yang mencerminkan pemikiran dan pengalaman pribadi yang penuh keterbatasan. Tidak hanya mendengar penjelasan dari para pembicara, dalam acara Bincang Buku ini juga dibuka untuk pertanyaan dari audiens. Pertanyaan dari audiens juga sangat beragam sehingga membuka pemikiran-pemikiran baru tentang pemahaman dari perjuangan Kartini ini.
Acara berlangsung sangat lancar dan terbilang sukses ditambah dengan antusiasme audiens yang sangat tinggi terhadap buku ini. Di akhir sesi acara, para audiens yang sudah membeli buku juga berkesempatan untuk mendapatkan tanda tangan langsung dari Prof Dr-Ing. Wardiman Djojonegoro. Ketua pelaksana acara Dr Daya Negri Wijaya SPd MA juga mengungkapkan kalau acara ini terbilang sukses melihat antusiasme audiens yang datang lebih dari yang diperkirakan. “Kita itu hanya punya 96 kursi, tapi yang datang melebihi. Itu membuktikan kalau memang acara ini menarik untuk ditonton atau diikuti,” ucapnya. Dia juga berharap agar kajian terkait tentang kesetaraan gender dan perempuan ini bisa dilanjutkan. Hal ini bertujuan agar perjuangan Kartini tidak berhenti dan tetap bisa lanjut hingga seterusnya.“Bukan hanya dari kami, tapi juga teman-teman mahasiswa sehingga inspirasi Kartini tidak berhenti di masa lalu,” paparnya.


