Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) mendorong inovasi energi terbarukan dari solar cell hingga teknologi hidrogen. Ketua LPPM UM, Prof., Dr. Markus Diantoro, M.Si., mengatakan Pemerintah Indonesia sedang menggencarkan kebijakan energi baru dan terbarukan, yaitu menargetkan bauran energi terbarukan dapat tercapai 23% pada tahun 2025 dan 31% di tahun 2050 mendatang. Dalam pengimplementasiannya, pemerintah banyak mendorong pada pengembangan pada energi geothermal atau panas bumi dan pengalihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) mendukung kebijakan Pemerintah dan terus mendorong riset yang fokus pada pengembangan energi ramah lingkungan. Prof. Markus berpendapat bahwa pemerintah Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Terlebih lagi, dengan posisi Indonesia yang berada tepat di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah untuk dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, seperti energi matahari, angin, geothermal, hidrogen, hingga nuklir. “Kalau saya lihat progresnya sudah ke arah yang menurut saya benar dan memang kita sangat beruntung ada di khatulistiwa,” tegas Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., Ketua LPPM UM, saat diwawancarai pada Kamis (10/7/2025). Pengembangan energi terbarukan juga tidak luput dari adanya limbah yang dihasilkan dalam proses pengerjaanya maupun setelah pemakaiannya. Menanggapi hal ini, Prof. Markus menjelaskan bahwa dalam menghasilkan energi pasti ada limbah, tetapi setidaknya dengan menggunakan renewable energy ini, limbah yang dihasilkan akan jauh lebih sedikit dan lebih aman. “Ya kalau yang kita sebut ramah lingkungan, ini jauh lebih ramah daripada yang konvensional,” terangnya.
Beliau juga menyoroti beberapa tantangan yang Indonesia alami dalam mengembangkan energi terbarukan ini, yaitu antara lain teknologi yang masih terbatas, regulasi pemerintah yang masih kurang efektif, dan budaya masyarakat. Teknologi yang terbatas membuat Indonesia masih bergantung dengan pemasok teknologi luar negeri dan pengembangan teknologi Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, menurutnya, jika regulasi pemerintah dapat dengan tegas untuk mengajak banyak pihak, pengembangan energi terbarukan ini bisa berkembang lebih cepat. Sedangkan tantangan budaya sendiri merujuk kepada minimnya pemahaman dan kontribusi masyarakat terkait renewable energy. “Oleh karena itu, bagusnya kalau kita semua berperan, berkontribusi dan terus menggerakkan tadi ya. Berkontribusi kalau hanya respon itu kurang baik, berkontribusi menggerakkan, menginisiasi, mengakomodasi plus merespon ya,” tuturnya.
Peran LPPM Mendukung Energi Terbarukan
Sebagai lembaga yang berperan dalam mengembangkan kegiatan penelitian dan pengabdian, LPPM UM juga mengambil peran penting dalam mengembangkan teknologi terbarukan. Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM yang memiliki fokus pada pengembangan sains dan rekayasa teknologi juga memiliki fokus pada energi terbarukan. “Ini (Pusat Sains dan Rekayasa) juga nomor dua di UM ini jumlah penelitian selain yang pendidikan tadi,” tambahnya. LPPM UM juga memiliki Water Research Center yang masih dalam tahap awal. Di Water Research Center ini, LPPM ingin mengembangkan program water splitting, yaitu pemecahan air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan Hidrogen (H2). Nantinya, mereka memanfaatkan oksigen untuk pernafasan bagi yang membutuhkan dan hidrogen untuk disimpan dan dimanfaatkan lagi. “Kita akan coba mungkin tahun ini tahun depan bisa kita mulai riset menghasilkan energi terbarukan. Nah, ini mungkin belum ada (yang mengembangkan), setidaknya di UM ya,” paparnya. Menindak lanjuti hidrogen yang sudah dihasilkan tadi, LPPM UM juga memiliki rencana pengembangan selanjutnya yaitu fuel cell, alat penghasil listrik dari energi kimia dan bahan bakar. Hidrogen yang sudah ditampung tadi, nantinya akan digunakan untuk bahan bakar fuel cell ini sehingga dapat menghasilkan listrik dari energi terbarukan. Dalam pengembangannya, LPPM UM tidak bergerak sendiri. Mereka juga menggandeng beberapa pihak dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan beberapa pihak lain dari Jepang dan Cina. “Kita sudah mulai tahun lalu bersama dengan BRIN yang dengan Jepang dan China ini terus kembangkan. Kita juga mulai nyicil, peralatan-peralatan kecil yang untuk penelitian tersebut,” jelasnya. Untuk LPPM UM juga aktif dalam mengikuti pameran dan event dalam yang mengusung tema renewable energy, seperti Indonesia Best Electricity Award dan Indonesia research Expo, dan UM telah dinobatkan sebagai One of The Most Renewable Research University. Selain untuk mengenalkan hasil karya dan penelitian, partisipasi LPPM dalam kegiatan ini juga untuk menarik pihak-pihak lain yang sekiranya dapat membantu dalam pengembangan penelitian kedepannya. “Kalau kita nggak ikut pameran, mereka nggak tahu kalau kita ada penelitian terkait dengan renewable energy,” terangnya.
Dalam pengabdian kepada masyarakat, LPPM UM juga berkontribusi banyak terkait dengan renewable energy, terutama dalam pemanfaat energi surya. Salah satu contohnya ada di daerah Tidar, Kota Malang dimana LPPM memanfaatkan sel surya untuk penerangan jalan, penyiraman dan pemupukan tanah otomatis, sekaligus penerangan UV. “Itu kelompok ibu-ibu yang ada di sana, itu punya pertanian tapi ndak punya lahan. Nah, itu kita bantu di situ,” rincinya. Dia berharap dengan penelitian dan inovasi terkait energi terbarukan yang dilakukan LPPM ini UM tidak hanya menjadi bagian saja, tetapi pemimpin pengembangan renewable energy tersebut. Walaupun dengan akademisi yang terbatas, tetapi UM dapat menunjukkan bahwa mereka mampu untuk berkontribusi secara maksimal dalam penelitian maupun pengembangan inovasi. “Meskipun kita dibidang itu jumlah orangnya masih sedikit karena kita tidak banyak dosennya ya, sekitar 1300. Tapi dari porsi itu setidaknya itu di renewable energy kita sudah nomor 2 setelah education,” jelasnya. Melihat Indonesia yang juga sudah menggencarkan rencana-rencana terkait renewable technology, beliau juga berharap di masa depan Indonesia dapat mengambil peran yang maksimal. Menurut Prof. Markus, sumber daya manusia adalah yang paling penting mengingat sumber daya alam tidak akan bisa dimanfaatkan jika tidak ada manusia yang menggerakkan. “Setidaknya saya berharap Indonesia juga bisa ambil peran terbesar semaksimal mungkin. Bukan masalah resource atau sumber alam. Tapi sumber daya manusia itu lebih berperan,” pungkasnya.