Pada tanggal 27 Januari 2023, Pusat Sains dan Rekayasa (PSR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) bersama dengan perwakilan dari Conventry University (Prof. Benny Tjahjono), Manajer dan Asisten Manajer PLTU Nii Tinasa, dan juga perwakilan dari PLN EPI dan PT. EMI Persero mengadakan Lokakarya daring dengan tema menggali potensi kerjasama penelitian terkait dengan energi terbarukan dalam rangka menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Industri Energi.

Pada kesempatan tersebut, pokok bahasan mengarah kepada kebutuhan energi terbarukan untuk PLTU yang ada di Indonesia. Selama ini bahan bakar yang dipakai di PLTU adalah bahan bakar fosil, yaitu batubara, merupakan bahan bakar tidak terbarukan, semakin lama cadangan batubara semakin menipis. Di negara-negara maju seperti Jepang, selain batubara, bahan bakar di PLTU mulai dipadu dengan bahan bakar yang terbarukan. Sistem ini dikenal dengan istilah co-firing.

Bahan co-firing yang dipakai selama ini kebanyakan berupa biomassa, yang mayoritas adalah cangkang sawit. Untuk negara bukan penghasil kelapa sawit seperti Jepang, cangkang sawit diimpor dari negara lain, salah satunya adalah dari Indonesia. Di sisi lain, Indonesia baru saja memulai sistem co-firing. Perwakilan PLN EPI dan EPI menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia memiliki kebijakan energi nasional bahwa pada tahun 2025 pemanfaatan energi baru terbarukan harus mencapai 23 persen dalam bauran energi primer nasionalnya, dan sebesar 31 persen pada tahun 2050. Sementara itu, hingga saat ini pemakaian bahan co-firing masih sekitar 1-3 persen. Dengan demikian masih perlu percepatan untuk mencapai target pemerintah Indonesia.

Perwakilan dari PLTU Nii Tanasa sebagai praktisi menceritakan kendala yang ada di lapangan terkait dengan pelaksanaan sistem penggunaan co-firing. Mereka menyampaikan bahwa akhir-akhir ini persediaan cangkang sawit sebagai sumber co-firing yang paling baik semakin terbatas dan harganya semakin meningkat. Jika harga bahan co-firing melebihi harga batubara maka mereka akan merugi, sehingga tidak lagi dipakai. Kenaikan harga dan keterbatasan sediaan cangkang sawit ini disebabkan oleh perusahaan sawit di Indonesia mengekspornya ke negara lain, karena perusahaan dari negara lain dapat membeli dengan harga yang lebih tinggi.

Prof. Benny Tjahjono sebagai perwakilan akademisi dari Conventry University menyampaikan bagaimana supply chain dari energi harus menjadi kajian pertama yang harus dilakukan supaya sustainability dari energi terbarukan dapat berlangsung. Penelitian tidak dilakukan secara seporadis, namun terarah dan terkonsep dengan baik. Kerjasama industri, akademisi dan masyarakat sangat diperlukan.

Pada akhirnya, Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM yang diwakili oleh Eli Hendrik Sanjaya, Ph.D. dan Ahmad Atif Fikri, Ph.D. menyampaikan bahwa UM siap untuk berusaha membantu mencarikan solusi melalui penelitian-penelitian terkait dengan biomassa sebagai bahan co-firing beserta supply chain-nya. Harapannya ke depan dapat ditemukan biomassa dan teknologi yang tepat sebagai bahan co-firing di PLTU. Eli menyampaikan juga bahwa UM sangat terbuka berkolabirasi untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Industri, baik melalui skema penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, maupun jasa konsultansi.