Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) kembali menyelenggarakan peringatan Hari Bumi 2026 di berbagai lokasi di sekitar lingkungan kampus pada Jumat (17/04/2026). Kegiatan LPPM UM ini diikuti sivitas akademika sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan melalui berbagai aksi pelestarian, seperti penanaman pohon, pembersihan sungai dan drainase, hingga pelepasan ikan nila dan lele. Agenda LPPM UM ini merupakan kegiatan tahunan yang secara konsisten digelar dalam rangka menyambut Hari Bumi 2026 yang berbeda setiap tahun. Hal ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Hariyono MPd saat sambutan mengatakan, kegiatan ini tidak boleh berhenti pada aspek seremonial semata, tapi harus dilandasi oleh kemauan, kesungguhan, dan kesadaran setiap individu dalam menjaga lingkungan. Hariyono juga menyampaikan, kondisi lingkungan yang baik turut memengaruhi kualitas hidup seseorang sehingga upaya pelestarian harus dimulai dari kesadaran setiap individu. “Kualitas hidup seseorang dipengaruhi lingkungan. Karena itu, pelestarian lingkungan harus dimulai dari kesadaran setiap individu,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Green Campus Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Sumarmi MPd turut menyampaikan bahwa berbagai kegiatan yang dilaksanakan bukanlah upaya yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari program berkelanjutan yang telah dirancang secara komprehensif oleh universitas. Dia menjelaskan, UM telah melakukan berbagai langkah konkret dalam mendukung pelestarian lingkungan, mulai dari penataan infrastruktur berbasis konsep smart building hingga prioritas pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan kampus.

Gedung UM Terapkan Konservasi Air Hujan

Selain itu, Prof Sumarni menjelaskan bahwa gedung-gedung di Universitas Negeri Malang telah menerapkan sistem konservasi air hujan yang dimanfaatkan sebagai air untuk flush toilet serta air minum, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pasokan PDAM. “Air hujan yang digunakan telah melalui proses sterilisasi dan pengolahan terlebih dahulu guna memastikan keamanan dan kelayakan penggunaannya,” ujarnya. Selain untuk kebutuhan pokok seperti air minum, dia mengatakan, air hujan juga ditampung dan dialirkan ke dalam sumur resapan biopori berukuran besar. Pembuatan biopori jumbo ini bertujuan untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga dapat mengurangi risiko genangan air sekaligus menjaga ketersediaan air tanah. Menurut dia, program pembuatan sumur resapan biopori tersebut saat ini sedang diterapkan secara langsung oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang sebagai bagian dari praktik konservasi air dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di kawasan kampus. Selain itu, dia melanjutkan, universitas juga berupaya memenuhi kebutuhan energi dan sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan. Pemanfaatan panel surya sebagai sumber listrik alternatif menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan pada energi konvensional. Di sisi lain, dia mengatakan, pengelolaan air juga dilakukan melalui pemanfaatan air hujan yang diintegrasikan dengan sistem konservasi air yang kemudian diolah, disterilisasi, dan dianalisis sehingga layak digunakan, termasuk sebagai sumber air minum.

Pengolahan Sampah Terpadu Tangani Limbah

Tidak hanya itu, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian utama dalam program Green Campus. Universitas Negeri Malang mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah terpadu yang mampu menangani limbah organik maupun anorganik secara lebih efektif. Seluruh upaya ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak, khususnya sivitas akademika, yang berperan aktif dalam merancang, mengembangkan, hingga mengimplementasikan program-program berbasis lingkungan di kampus. Prof Sumarmi lebih lanjut menegaskan, tujuan utama dari berbagai inisiatif tersebut adalah mewujudkan Universitas Negeri Malang sebagai kampus yang sehat, nyaman, dan mencerdaskan. “Kampus yang sehat ditandai dengan lingkungan yang bersih, bebas dari sampah, serta minim polusi, sehingga mampu mendukung proses belajar dan aktivitas akademik secara optimal,” katanya. DIa juga menekankan bahwa keberhasilan program pelestarian lingkungan tidak dapat hanya bergantung pada komitmen pimpinan kampus, dosen, maupun tim Green Campus semata. Menurut dia, perlu sinergi dan kerja sama yang kuat dengan mahasiswa sebagai bagian penting dari ekosistem kampus. Karena itu, dia mengatakan, keterlibatan ratusan mahasiswa dalam kegiatan Hari Bumi 2026 ini menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini. “Perlu ada kesadaran dari mahasiswa, jadi, kolaborasi dengan mahasiswa itu sangat penting,” ujar Prof Sumarni dalam private interview pada Jumat (17/04/2026). Dia juga menyampaikan salah satu filosofi Jawa yang dia pegang teguh yaitu “Memayu Hayuning Buwana” yang berarti untuk “memperindah dunia” melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak secara nyata. Semua kegiatan yang dilakukan pada peringatan Hari Bumi, seperti pelepasan ikan di danau, kegiatan bersih-bersih kampus, serta penanaman pohon, merupakan bagian dari upaya Prof Sumarni dalam merealisasikan filosofi Jawa yang diusungnya untuk memperindah dunia. Melalui berbagai kegiatan tersebut, nilai kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.

Dia juga menambahkan, dirinya selalu menekankan kepada mahasiswa pentingnya menjaga lingkungan melalui pesan sederhana. “Ayo kita memperindah dunia. Kalau kamu belum bisa memperindah dunia, paling tidak jangan merusak,” ujarnya. Pesan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di sekitar. Dia mengatakan, partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai rangkaian kegiatan Hari Bumi ini turut mencerminkan peran penting mereka dalam mendukung program Green Campus. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa secara langsung tersebut juga meninggalkan kesan tersendiri bagi para peserta. Salah satu mahasiswi bernama Novelia Putri Safira yang terlibat dalam kegiatan ini mengungkapkan pandangannya mengenai pengalaman mengikuti peringatan Hari Bumi 2026 di Universitas Negeri Malang.

Mahasiswi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang itu menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Hari Bumi yang dilaksanakan dengan beberapa rangkaian, seperti pengolahan sampah hingga penanaman pohon. Dia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperingati Hari Bumi secara simbolis, tetapi juga menjadi bagian dari implementasi pembelajaran yang berkaitan langsung dengan mata kuliah maupun program studi yang mereka jalani sehingga mahasiswa dapat memahami konsep pelestarian lingkungan melalui praktik nyata di lapangan. Dia juga menyampaikan harapannya agar program yang telah dilaksanakan tidak berhenti pada kegiatan simbolis semata. “Semoga program ini tidak berhenti pada penanaman pohon saja tanpa adanya perawatan lebih lanjut. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa lain dapat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya sebagai bentuk harapan terhadap keberlanjutan program Hari Bumi di lingkungan kampus.