MALANG — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) menerima kunjungan resmi dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek pada Jumat pagi (09/05/2025).
Dalam kunjungan ini, Dispertapan Trenggalek menyerahkan bibit ubi jalar ke pihak kampus sebagai bentuk kolaborasi untuk mendukung program swasembada pangan di LPPM Universitas Negeri Malang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek Imam Nurhadi mengungkapkan tujuan kolaborasi ini sangat terikat erat dengan inovasi dan pengabdian masyarakat yang mana LPPM UM banyak menjawab kebutuhan mereka, terutama untuk masyarakat Trenggalek.
“Kerja sama yang kami jalin itu banyak terkait dengan inovasi, banyak soal pengabdian kepada masyarakat dan UM sangat menjawab apa yang menjadi kebutuhan kami,” ungkap Imam Nurhadi saat diwawancarai jurnalis Tugu Jatim ID.
Untuk diketahui, kerja sama antara Dispertapan Trenggalek dan LPPM UM ini sudah terjalin lama, yaitu sejak 2018. Walaupun keduanya berasal dari lembaga yang memiliki fokus yang berbeda, yaitu lembaga pemerintahan dan lembaga pendidikan, itu tidak mengurangi manfaat yang keduanya dapatkan.
Melalui kolaborasi ini, Imam Nurhadi mengatakan, Kabupaten Trenggalek banyak terbantu dengan adanya kegiatan kuliah kerja nyata (KKN). Pihak UM juga banyak membantu dengan memberikan ilmu kepada masyarakat tentang cara promosi atau mengenalkan produk lokal dengan memanfaatkan media. Di sisi lain, UM juga terbantu untuk memperkenalkan program-program UM kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami dengan UM itu sudah lama, jadi kerja sama kami sudah mulai 2018. Kemarin, seperti contohnya, terkait dengan promosi, media promosi yang diinisiasi oleh UM nanti kami diberi tugas untuk menyosialisasikan itu ke sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ubi Jalar Gadindong Kunci Sukses Program Swasembada Pangan
Dari banyaknya jenis tanaman yang dapat digunakan, dia mengatakan, ubi jalar Gadindong dipilih Dispertapan Trenggalek sebagai tanaman utama yang diharapkan dapat menyukseskan program swasembada pangan. Bukan tanpa alasan, menurut dia, ubi jalar jenis ini dipilih dengan beberapa pertimbangan seperti: pengeluaran dan perawatan yang minim, durasi panen yang lebih cepat, dan dapat bertahan di berbagai musim.
“Ubi jalar itu kalau menjalar harus diangkat untuk membesarkan umbi. Karena itu, kami punya inovasi itu (ubi jalar Gadindong) sehingga dia tidak merambat dan tidak perlu tenaga (untuk membalik). Tenaga balik itu cukup mahal. Dan kami panen jauh lebih cepat,” jelasnya.
Dari tekstur rasa dan warna alaminya, ubi jalar Gadindong juga berbeda dengan ubi jalar pada umumnya. Imam Nurhadi menjelaskan, tekstur ubi jalar Gadindong lebih lembut dan tidak banyak getah, tidak seperti ubi jalar pada umumnya yang lengket di bibir. Warna dagingnya juga lebih bervariasi daripada ubi pada umumnya.
“Mungkin kalau kita sering makan ubi jalar itu kan lengket di bibir, itu sekarang sudah tidak seperti itu. Ada yang kulitnya merah, dalamnya oranye. Ada yang luarnya oranye, dalamnya oranye banget,” terangnya.
Dispertapan Trenggalek berharap perpaduan dari usaha masyarakat dan penelitian yang dilakukan akademisi ini akan meningkatkan swasembada pangan di Indonesia dengan lebih efektif. Misalnya, adanya informasi lengkap tentang kandungan nutrisi di dalam ubi jalar Gadindong dapat mendorong inovasi masyarakat untuk mengembangkan produk-produk lain di masa depan.
“Dan terus berinovasi sehingga menemukan ini (hasil penelitian dari ubi jalar Gadindong) bisa memberikan informasi kepada kami. Kami di lapangan juga akan banyak varietas-varietas baru terkait dengan tanaman pangan lokal lainnya,” tambahnya.
Kolaborasi Apik dari Masyarakat dan Akademisi lewat Ubi Jalar
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UM Markus Diantoro juga menambahkan tentang rencana-rencana UM dengan memanfaatkan tanaman ubi jalar ini. Untuk mencapai tujuan swasembada pangan, UM berkolaborasi dengan tim biotek, tim biokimia, dan tim culinary untuk mengupas tuntas manfaat ubi jalar Gadindong.
Pada akhirnya, hasil penelitian dari ubi jalar Gadindong ini akan dikembalikan kembali ke Kabupaten Trenggalek. Harapannya, ilmu yang akan mereka dapatkan dapat diterapkan langsung pada tanaman-tanaman itu sehingga menghasilkan panen yang lebih maksimal.
“Nanti ada dari biotek, biokim, sama dari tim culinary. Di masa depan, kami ingin menumbangkan keilmuan itu ke pengguna dan produsen (petani dan masyarakat Trenggalek),” ungkapnya.
UM pun berharap untuk menjadi pemimpin penyedia informasi ilmiah yang dibutuhkan wirausahawan. Dengan demikian, akademisi juga memiliki peran aktif dalam memberdayakan wirausahawan lokal untuk dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya.
“Harapannya jadi mercusuar scientific kewirausahaan. Biasanya kalau ada data ilmiahnya, mereka akan lebih berdaya,” jelasnya.