5 Januari 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Pusat Sains dan Rekayasa (PSR) LPPM UM melaksanakan kegiatan Sosialisasi Penggunaan dan Pemanfaatan Alat Hybrid System di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UM Pantai Gurah, Kabupaten Blitar, pada 5 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program bantuan CSR dari PT. AirNav Indonesia dengan judul: pengawetan hasil tangkapan ikan kelompok nelayan melalui pemanfaatan freezer berbasis energi terbarukan hybrid system, yang mengkombinasikan panel surya dan turbin angin. Sosialisasi difokuskan pada pengenalan fungsi sistem PLTS, pemanfaatan freezer, serta penguatan pemahaman nelayan terhadap operasional dan keberlanjutan teknologi yang telah terpasang.

Ketua tim pengabdian, Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si., Ph.D., memandu jalannya sosialisasi yang dihadiri oleh 19 nelayan Pantai Gurah. Kegiatan ini sekaligus diintegrasikan dengan pengisian kuesioner oleh 15 anggota kelompok nelayan sebagai bagian dari evaluasi dampak program. Tim pengabdian lainnya mendampingi nelayan dalam proses pengisian kuesioner, sementara tim teknis melakukan pengukuran lanjutan menggunakan hand anemometer dan barometer. Pengukuran kecepatan angin dilakukan untuk membandingkan hasil dengan data awal pengumpulan data sebelumnya, sedangkan barometer digunakan untuk memantau kondisi suhu dan kelembapan di ruang penyimpanan freezer dan perlengkapan hybrid system. Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, UM melalui PSR berkomitmen untuk berkontribusi pada pencapaian SDGs No. 7: Affordable and clean energy.

Hasil kuesioner menunjukkan dampak positif terhadap aktivitas melaut dan pengelolaan pascapanen. Sebanyak 12 dari 15 nelayan (80%) menyatakan adanya perubahan pola melaut setelah terpasangnya PLTS dan freezer, terutama terkait fleksibilitas waktu melaut dan berkurangnya tekanan untuk menjual hasil tangkapan pada hari yang sama. Pada aspek pascapanen, 13 nelayan (86,7%) menilai kualitas ikan lebih terjaga dengan penggunaan freezer, sementara 73,3% responden menyebutkan hasil tangkapan kini dapat disimpan sementara hingga waktu penjualan yang lebih menguntungkan. Dari sisi pemasaran, 80% nelayan merasakan peningkatan posisi tawar terhadap pengepul, meskipun sebagian masih berada pada tahap adaptasi awal pemanfaatan sistem.

Tingkat penerimaan teknologi juga tergolong tinggi, dengan 93,3% responden menilai sistem PLTS dan freezer bermanfaat dan layak diterapkan di Pantai Gurah. Sebagian nelayan menyampaikan kebutuhan pendampingan lanjutan, khususnya terkait perawatan dan pengelolaan teknis jangka panjang. Temuan ini menegaskan bahwa sosialisasi tidak hanya meningkatkan pemahaman nelayan terhadap teknologi energi terbarukan, tetapi juga memperkuat kesiapan sosial untuk keberlanjutan program. Dengan tingkat penerimaan di atas 80% pada sebagian besar indikator, program PLTS hybrid dan freezer berpotensi menjadi model pengelolaan pascapanen perikanan yang berkelanjutan bagi wilayah pesisir yang belum terjangkau listrik konvensional.