Hari kedua review proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LPPM UM) di Hotel Montana Dua, Kota Malang, Selasa (10/03/2026). Kegiatan LPPM UM ini dihadiri oleh sekitar 100 reviewer yang hampir menyelesaikan proses review-nya. Tidak hanya reviewer internal UM saja, reviewer juga berasal dari eksternal yang bekerja secara online.
Ketua LPPM UM Prof Aji Prasetya Wibawa ST MMT PhD menyampaikan bahwa proses review masih terus berjalan, tetapi belum memenuhi angka 100%. “Sekarang sudah bagus sebagian besar sudah selesai, kalau angka pastinya dikatakan 100% jelas belum, tetapi nggak bisa dipastikan sih ya karena terus bergerak, ini juga lagi pada mengerjakan,” ujar Aji.
Transparansi Review Proposal Wujud Tagline Tenang Mengabdi
Aji menjelaskan, tagline LPPM UM saat ini adalah “Senang Meneliti, Tenang Mengabdi, Menang Berkolaborasi”, maka terciptalah proses review yang transparan ini untuk mewujudkan tag Tenang Mengabdi. “Pengumumannya ini masih di bulan April, masih harus dipresentasikan yang lolos berapa, dijamin tidak ada plagiasi, tidak ada kecurangan, prosesnya transparan. Sesuai dengan tagline-lah ya tenang mengabdi,” jelas Aji. Dia juga menjelaskan tentang plotting untuk proses review yang dilakukan secara ketat dengan double checking. “Kami double check karena meskipun sistem sudah bisa mencarikan reviewer proposalnya siapa, tetapi tetap butuh verifikasi manusia karena sistem baru bisa ploting berdasarkan ketua. Padahal terkadang ada reviewer yang menjadi anggota, dan saat ini sudah sesuai baik ketua maupun anggotanya tidak sama dengan reviewer,” tutur Aji. Aji mengatakan bahwa setelah proses review, peneliti akan mendapatkan dua feedback secara anggaran dan subtansi. “Ada feedback dua macam, secara anggaran rincian belanjanya dan substansi apakah sesuai dengan universitas atau tidak. Kalau secara anggaran tidak sesuai mungkin bisa dikurangi, tetapi kalau secara substansi tidak sesuai ya belum bisa diterima,” ujarnya. Proses review tidak hanya berhenti di tahap ini saja, tetapi akan direview kembali ketika sudah ada hasil dari penelitiannya. “Nantinya juga akan ada review hasil setelah penelitian dilakukan. Apabila tidak sesuai dengan target awal, maka penelitian yang bersifat berkelanjutan akan dihentikan,” kata Aji. Saat ini, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sedang difokuskan pada peneliti muda dalam bentuk buku dan hasil karya mahasiswa.
Di samping itu, Aji mengatakan saat ini juga banyak proposal kolaborasi yang diajukan untuk pendanaan. “Sekarang banyak kolaborasi sehingga muncul keunggulan yang baru. Ini bisa mengajak peneliti asing agar penelitian tidak hanya bermanfaat secara lokal, tetapi bisa secara global juga,” katanya. Hal ini merupakan salah satu upaya LPPM UM untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian. “Targetnya sesuai anggaran, kalau tahun lalu sekitar 1.300 judul yang didanai, kami berharap tahun ini bisa lebih banyak lagi,” harap Aji. Aji mengungkapkan dana tahun ini lebih banyak daripada tahun sebelumnya untuk kegiatan riset. “Dananya meningkat, jumlahnya bisa menyesuaikan dengan adanya matching fund dengan universitas lain juga,” ucap Aji. Dia mengatakan bahwa adanya matching fund dengan universitas lain merupakan salah satu keunggulan menjadi PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum). “Apalagi dengan status PTN-BH ini membuat UM punya bargaining yang lebih, sehingga bisa dilirik oleh kampus lain,” kata Aji.
Profesionalitas dan Reliabilitas Dijunjung Tinggi dalam Proses Review
Sekretaris LPPM UM Dr Hary Suswanto ST MT menjelaskan bahwa proses review ini dilakukan secara fleksibel dapat dikerjakan di mana pun dan kapan pun. “Kita ini kan punya program, tetapi dinamika di lapangan tidak bisa dihindari, karenanya fleksibilitas dalam me-review proposal sangat tinggi,” kata Hary. Namun, dalam hal ini reviewer harus tetap menjaga profesionalitas dan reliabilitas. “Oleh karena itu, kita harus kedepankan profesionalitas dan kualitas menilai, serta keajegan reliabilitas dalam nilai,” ucap Hary.
Dengan waktu yang singkat ini, ke depannya juga perlu ditingkatkan lagi pelaksanaan kegiatan me-review agar tidak terasa terburu-buru. “Tentunya perlu waktu dan pemahaman yang lebih serius dan objektif, sehingga perlu dilaksanakan peningkatan pelaksanaan kegiatan,” Hary mengevaluasi jalannya kegiatan ini. Selanjutnya, dia berharap kegiatan ini dapat berjalan lancar hingga tahap akhir. “Harapan saya sesuai dengan waktunya semua sudah tuntas 100%, lalu di tahap berikutnya berjalan dengan baik dan lancar,” harap Hary. Dia juga mengatakan bahwa profesionalitas harus tetap dijaga. “Kami tetap menjaga kualitas dan profesionalitas judgement reviewer. Dari panitia tidak akan campur tangan untuk menilai, jadi murni dari reviewer,” jelasnya.
Pesan Reviewer untuk Para Peneliti
Beberapa reviewer turut menyampaikan pesan kepada para peneliti sesuai dengan keresahan mereka selama me-review proposal. Seorang reviewer dari Sekolah Pascasarjana UM, S2 Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Dr Ade Eka Anggraini MPd menyampaikan bahwa terdapat perbedaan antara panduan periode ini dengan sebelumnya. “Ini adalah tahun ketiga saya jadi reviewer internal UM, dan ada sedikit perbedaan, salah satunya di template proposal,” kata Ade. Dia melanjutkan, ada beberapa proposal yang masih tidak sesuai dengan template baru. “Nah, ketika me-review ada beberapa proposal yang masih tidak sesuai template, sehingga tidak lolos administrasi,” ujar Ade. Untungnya, banyak proposal yang sudah bagus dan sesuai dengan kriteria penilaian. “Banyak juga yang sudah bagus, sesuai dengan template, dan apa yang diinginkan dalam penilaian,” lanjut Ade.
Dia berpesan kepada para peneliti untuk meningkatkan literasi agar proposal yang telah diajukan tidak ditolak sia-sia. “Untuk para peneliti, sebaiknya literasinya ditingkatkan lagi untuk membaca panduan, karena sayang kalau sudah membuat proposal sedemikian rupa, tetapi tidak lolos administrasi karena tidak sesuai template,” pesannya. Ade juga menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan oleh LPPM UM ini. “Saya rasa LPPM juga sudah semakin baik, standardisasi template sekarang hampir menyerupai di DRTPM (Direktorat Riset, Teknologi, Pengabdian kepada Masyarakat, Red). Ini perkembangan yang baik dan bagus karena secara tidak langsung melatih para peneliti untuk mengunggah proposal di DRTPM nantinya,” tutur Ade. Reviewer lainnya yang berumah di Fakultas Psikologi UM, Dr Hanggara Budi Utomo SPsi MPsi mengatakan bahwa kegiatan seperti ini penting dilakukan. “Kegiatan ini penting menjadi sebuah pengembangan di bidang riset, karena para peneliti dan reviewer mendapatkan pengetahuan yang mendalam dan update tentang riset terbaru,” katanya. Oleh sebab itu, Hanggara menyampaikan pesan kepada para peneliti untuk tetap mengikuti perkembangan di era saat ini. “Tetap mengikuti perkembangan di era sekarang ini, terutama tentang gap research, kemudian kebaruan penelitian nanti bisa diberikan sebuah ide yang lebih baik,” pesan Hanggara.
Dia juga menyampaikan tentang penggunaan AI yang tidak boleh mendominasi. “Ya nggak papa sih menggunakan AI, tetapi sebagai tools saja,” ujar Hanggara. Di samping itu, dia mengatakan saat ini LPPM UM menjadi semakin baik dan tersistem dalam menyelenggarakan persiapan riset. “Semakin tersistem menurut saya, alurnya semakin jelas, semuanya sudah bagus. Untuk LPPM semoga semakin berjaya dan mementingkan kualitas dibanding kuantitas,” pungkasnya.


