Universitas Negeri Malang (UM) melalui Pusat Sains dan Rekayasa Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM mengadakan kegiatan Konsolidasi Penguatan Jejaring Internasional dan Peningkatan Hibah Internasional UM pada Selasa (03/02/2026). Kegiatan LPPM UM ini mengundang 140 dosen yang pernah mengenyam pendidikan atau melaksanakan kegiatan akademik di luar negeri. Dengan diadakannya acara ini, LPPM UM mengajak para dosen untuk menguatkan jaringan internasional mereka dalam rangka peningkatan kredibilitas dan kualitas perguruan tinggi.
Program Internasionalisasi Kementerian
Pada sesi penyampaian materi, Bapak WR III menjelaskan bahwa terdapat kontrak yang rektor dan kementerian tanda tangani mengenai pendanaan internasional untuk penelitian dan publikasi karya ilmiah. Dalam kontrak tersebut, kementerian menginginkan pendanaan internasional ini terus meningkat dengan publikasi scopus sebanyak 1.800 pada 2026. “Ini tadi saya membuka, scopus kita itu di angka 1.511. Kementerian mematok tahun 2026, naik 1.800. Berarti berapa kurangnya, 300 publikasi,” ujarnya dalam sesi materi. Menurut data yang ada, dari kurang lebih 1.500 publikasi ini, mahasiswa S2 dan S3 menyumbang sebanyak sekitar 580 publikasi. Selebihnya dari 600 publikasi, dibulatkan dari 580 publikasi, hanya 900 publikasi yang berasal dari dosen. Dengan jumlah dosen UM sekitar 1.200, maka setidaknya ada 1/4 atau 1/5 dosen UM yang belum menyumbangkan publikasi. Hal inilah yang ingin LPPM maupun UM dorong ke depannya untuk para dosen dapat berkontribusi dalam menyusun publikasi ilmiah. “Berarti ada kurang lebih 1/4 atau 1/5 itu dosen kita yang belum berkontribusi untuk publikasi. Rata-rata. Maksud saya begini, perlu kita tahu bahwa kondisi hari ini itu masih perlu diberikan dorongan, perlu diperkuat, perlu dikonsolidasi, terkait dengan itu semuanya,” ujarnya. Selain pendanaan internasional yang ditargetkan untuk meningkat, ranking universitas di level internasional juga ditargetkan untuk ada peningkatan. Kini, UM berada di ranking 1.400 dan kementerian menargetkan UM untuk bisa mencapai ranking 1.000 pada 2026. “Selain dari tagihan publikasi, kita juga punya tagihan untuk peningkatan ranking di QS. Kita sekarang ada di angka 1.400. Kita ditarget 2029 itu harus naik di angka 1.000 oleh kementerian,” ungkapnya. Hal ini menjadi penting karena selaras dengan prioritas kementerian pada 2026, yaitu internasionalisasi. Dari presiden sendiri menginginkan universitas-universitas di Indonesia terus meningkat, dari sisi kualitas maupun ranking di level internasional. “Sudah menjadi prioritas dari kementerian tahun ini adalah internasionalisasi. Pak Presiden menginginkan agar perguruan tinggi di Indonesia dari waktu ke waktu akan terus meningkat dari sisi kualitas dan peringkatnya di mata global,” ucapnya. Dia juga menyampaikan bahwa memahami pemeringkatan perguruan tinggi memang tidak bisa menjadi patokan bahwa universitas itu baik atau tidak. Tetapi pada kenyataannya, angka atau level universitas di ranking internasional selalu ditanyakan. Dampak dari ranking perguruan tinggi ini juga terasa ketika ingin menjalin relasi dengan perguruan tinggi lain, terutama perguruan tinggi luar negeri. Hal ini pun sudah terjadi ketika UM menyurati Qatar University namun tidak ada balasan. Hal ini juga nantinya akan berdampak pada hubungan atau program lain yang seharusnya dapat berjalan, namun harus tertunda karena menunggu balasan mitra. “Jadi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ranking itu masih dipandang. Memang itu bukan satu-satunya tolok ukur melihat kualitas perguruan tinggi. Tetapi, ya standar internasional masih melihat ranking itu penting,” jelasnya. Dari hal ini, UM makin berkomitmen untuk meningkatkan ranking melalui peningkatan kualitas perguruan tinggi. Kualitas dapat meningkat melalui publikasi internasional, yaitu publikasi yang bekerja sama dengan mitra luar negeri maupun publikasi yang berhasil tembus funding luar negeri. Maka dari itu, untuk mencapai target ini, dosen-dosen yang pernah kuliah di luar negeri sangat didorong untuk menghasilkan publikasi. Hal ini dianggap penting karena dengan pengalaman berkuliah di luar negeri, itu berarti mereka memiliki hubungan internasional yang berpotensi untuk mereka mengajak berkolaborasi dalam menyusun publikasi. “Ini tidak ringan saya pikir. Kontribusi dari Bapak-Ibu yang pernah belajar, pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, itu kami sangat-sangat berharap bisa membantu kita semuanya. Kita bisa bayangkan, kalau dosen-dosen kita yang mempunyai relasi dengan kolega-kolega di luar negeri tidak kita maksimalkan, rasanya sulit untuk bisa mendapatkan angka-angka (ranking) segitu itu,” terangnya.
Dukungan Pendanaan UM
Dalam rangka mendukung para dosen dalam menyusun proposal publikasi, UM pun telah menyiapkan Matching Fund. Nah, Matching Fund ini adalah pendanaan internal yang bisa para dosen terima untuk melakukan penelitian hingga publikasi karya ilmiah, secara pribadi maupun berkelompok. Dia menyampaikan bahwa rektor telah menganggarkan dengan menambahkan Rp10 miliar lebih banyak dari tahun sebelumnya, dengan jumlah total 57 miliar untuk pendanaan 2026. Dengan jumlah sebanyak ini, setidaknya akan ada 200 publikasi karya ilmiah Q1 dan Q2 yang bisa menerima pendanaan Matching Fund ini. “Kami dari UM, menyiapkan anggaran. Memang anggaran kita tidak bisa sebesar dari mereka (mitra internasional), tetapi setidaknya ini bisa menjadi stimulus, Bapak-Ibu bisa menawarkan kepada mereka bahwa kami punya anggaran,” sampainya. Pak Munjin Nasih dalam penyampaian materinya juga menegaskan 2 hal utama untuk mendorong penguatan jejaring internasional dalam rangka peningkatan publikasi internasional para dosen. Satu, UM akan meningkatkan jumlah insentif untuk publikasi yang menyertakan penulis internasional. Jumlah insentif yang diberikan adalah sebesar Rp2,5 juta lebih banyak daripada publikasi artikel yang tidak menyertakan mitra internasional. “Jadi, ada penambahan Rp2,5 juta untuk setiap artikel yang menambahkan mitra luar negeri sebagai co-author,” paparnya. Dua, memberikan insentif kepada dosen yang berhasil submit atau mengumpulkan proposal publikasinya ke funding internasional, seperti Erasmus dan British Council. Untuk pendanaan ini masih belum pasti berapa banyak insentif yang akan diberikan tetapi sudah pasti akan ada dana yang diberikan. “Proposal yang disubmit ke lembaga-lembaga itu, berhasil atau tidak berhasil, akan kita kasih insentif. Jadi, membuat proposal saja, kita kasih insentif. Saya mencoba mengusulkan angka Rp5 juta, masih belum, tapi keputusan kita oke, tapi nominalnya yang belum,” lanjutnya. Di akhir sesi materinya, dia menyampaikan bahwa pembuatan proposal maupun publikasi ilmiah ini menjadi sangat penting karena akan berdampak ke berbagai aspek di UM ke depannya. Jadi, dia sangat mengharapkan para dosen dapat bekerja sama untuk membangun UM ini menjadi lebih baik ke depannya. “Jadi, saya pikir dampaknya itu ke mana-mana. Jadi, kalau kampus kita baik, perankingan kita baik, tata kelola yang baik, SDM yang baik, keluarannya yang baik itu akan berdampak ke mana-mana,” tuturnya.
Tugas UM sebagai PTNBH
Ketua LPPM UM Prof Dr Markus Diantoro MSi juga mendukung pernyataan warek yang mana peran dosen untuk mengajak mitra internasionalnya dalam publikasi karya ilmiah ini memiliki dampak yang penting bagi perguruan tinggi. Hal ini juga selaras dengan kewajiban internasionalisasi di semua PTNBH. “Mitra-mitra di luar negeri itu kan sudah kerja sama nya dapet, internasionalisasinya dapet, grant internasionalnya dapet, nanti publikasinya juga internasional. Jadi, ada banyak yang bisa dicapai, ada acara tadi harapannya gitu,” tambahnya. Selain dosen yang pernah kuliah di luar negeri, Markus juga ingin menambahkan dosen yang pernah berkegiatan di luar negeri minimal selama 3 bulan untuk turut menulis publikasi. Ke depannya, UM juga akan merutinkan untuk setiap 2 minggu atau sebulan sekali untuk menulis hibah internasional dan dosen-dosen yang terpilih tadi akan diikutkan dalam sesi ini. “Nanti, kita akan rutin menulis terus, boleh ada dosennya, boleh tambahkan siswanya, boleh timnya, pokoknya kita akan rutinkan. Pokoknya, targetnya memang, pertama, proposalnya diperbanyak. Kalau proposalnya banyak kan potensi porsi untuk diterima akan makin banyak,” katanya lebih lanjut. Menurutnya, salah satu kendala dosen masih ada yang belum berkontribusi untuk publikasi adalah belum memahami tentang kesempatan-kesempatan yang sudah disebutkan tadi. Selain itu, pemahaman tentang kewajiban dosen PTNBH juga menjadi salah satu aspek kurangnya publikasi dari kalangan dosen. “Karena kalau hanya ngajar itu nggak ada bedanya, universitas PTNBH, BLU, atau Satker itu nggak ada bedanya, kan cuma ngajar semua. Sama SMA juga ngajar. Kalau mau membedakan dengan yang lain itu basisnya riset, kalau risetnya kuat pasti berbeda, pasti lebih maju. Karena negara juga begitu, negara yang risetnya bagus pasti lebih maju,” ujarnya. Ke depannya, LPPM UM juga memiliki 2 langkah konkret dalam rangka mencapai target-target yang sudah ditentukan tadi. Pertama, LPPM akan membuatkan Google Form yang ditujukan untuk dosen-dosen yang pernah berkuliah maupun berkegiatan di luar negeri. Dengan adanya Google Form ini, harapannya LPPM akan mempunyai data mengenai nama dosen yang memiliki jaringan internasional dan jurusan yang mereka ambil, sehingga dapat memudahkan LPPM untuk menunjuk untuk penyusunan publikasi. “Kalau sudah dapat, itu nanti kan ada grant-grant yang diberikan itu topiknya apa. Yang kesehatan, nah berarti orang ini. Energi, berarti orang ini. Langsung ditunjuk saja kan ada datanya,” tegasnya. Kedua, LPPM akan rutin mengadakan sesi menulis proposal. Rencananya kegiatan ini akan diadakan setiap dua minggu sekali, di hari Selasa atau Jumat. Sesi ini bertujuan untuk mendorong para dosen untuk berkomitmen dalam menyusun proposal publikasi. “Yang kedua kita akan rutin mulai langsung menulis proposal. Tidak usah rapat. Langsung menulis proposal. Jadi langsung coaching clinic langsung di LPPM,” imbuhnya. Setelah adanya kegiatan konsolidasi ini, LPPM UM ingin langsung mengambil langkah yang nyata untuk para dosen dalam menulis publikasi. Jika ada informasi tambahan, nanti akan LPPM sampaikan sembari terus menulis publikasi tersebut untuk menghindari pengulangan dan mendorong adanya hasil yang konkret ke depannya. “Jadi, kita sistemnya seperti helix. Helix itu muter tapi maju. Kalau kita muter gini, balik dari awal-awal nggak pernah maju. Seperti sekrup itu dia. Nggak apa-apa balik tapi nyeret informasi tambahan, tambah satu langkah lagi, maju lagi,” paparnya. Dia berharap UM dapat memiliki budaya riset yang kuat di masa mendatang. Dengan budaya riset yang kuat, maka nantinya pasti para akademisi lebih memiliki inisiatif sendiri untuk melakukan riset dan publikasi, tanpa perlu adanya dorongan. Jika publikasi makin meningkat, maka itu akan berdampak positif pada banyak aspek di perguruan tinggi itu sendiri. “Terus, menulis proposal, mengajak mitra, nyari dana, mahasiswanya dikursuskan, mahasiswanya diajak menulis, dan mahasiswanya didanai, dan sebagainya. Nah, itu pasti nanti jalan. Makin lama, makin banyak, kualitasnya makin kuat. budaya, research nya kuat. Baik di penelitian, pengabdian, maupun di pendidikan, itu harusnya terintegrasi,” harapnya.
