Artikel ini menyajikan liputan kegiatan “Akar Brantas, Nafas Jawa Timur: Sinergi Alam dan Air untuk Kehidupan Berkelanjutan” di Arboretum Sumber Brantas, Kota Batu, Sabtu (26/07/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) – Jatim Pro Brantas yang dikoordinasi bersama Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk edukasi lingkungan dan penanaman pohon ini menjadi salah satu upaya nyata untuk menjaga keberlanjutan DAS Brantas sebagai sumber kehidupan masyarakat Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari akademisi, pegiat lingkungan, hingga pemerintah, sebagai bentuk komitmen bersama terhadap pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Ketua Program Pengabdian Masyarakat JatimPro Dr Otto Fajarianto MKom memimpin kolaborasi lima perguruan tinggi di Jawa Timur (UM, Unair, ITS, Unesa, UB) untuk melaksanakan kegiatan penghijauan sepanjang aliran Sungai Brantas. Lokasi ini dipilih karena merupakan sumber air pertama yang mengairi ditujuh belas kabupaten dan kota di Jatim. Pengabdian ini merupakan awal dari kegiatan kolaborasi sinergi dari 5 Kampus PTNBH, Pemkot Batu, DLH Jawa Timur, Perum Jasa Tirta dan Perumda Air Minum Jawa Timur di Brantas. Harapannya, melalui penanaman pohon ini aliran sungai menjadi lebih jernih, lingkungan lebih bersih, serta berdampak positif bagi masyarakat setempat dan wilayah Jawa Timur secara umum. Sementara itu, Sekretaris LPPM UM Dr Hary Suswanto ST MT menyampaikan, kampus Universitas Negeri Malang mendukung Akar Brantas. “UM siap mendukung Akar Brantas, nafas Jawa Timur, sinergi alam dan air untuk kehidupan berkelanjutan. Visi ini diwujudkan melalui wadah penelitian dan pengabdian masyarakat yang dikembangkan oleh LPPM,” ujarnya.

Dalam konteks global, kegiatan ini memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian SDGs. Upaya pelestarian DAS Brantas secara langsung mendukung SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui perlindungan sumber air bersih; SDG 13 (Climate Action) dengan aksi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim melalui penanaman pohon dan restorasi daerah tangkapan air; serta SDG 15 (Life on Land) melalui pelestarian ekosistem darat dan keanekaragaman hayati di kawasan hulu. Lebih jauh, dia menjelaskan, kolaborasi antar institusi yang tergabung dalam kegiatan ini mencerminkan prinsip SDG 17 (Partnerships for the Goals), yaitu pentingnya kemitraan lintas sektor dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini juga merepresentasikan implementasi prinsip pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya menekankan aspek lingkungan, tetapi juga sosial dan kelembagaan.

Sebagai bentuk aksi nyata, seluruh peserta menanam pohon di area Arboretum Sumber Brantas. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol bahwa pemulihan lingkungan harus dimulai dari akar—baik secara fisik maupun filosofis. Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan komitmen kolaboratif lintas sektor. Dalam momentum ini, harapan besar ditegaskan: Sumber Brantas tidak hanya dijaga sebagai entitas ekologis, tetapi sebagai nafas panjang keberlanjutan Jawa Timur, sejalan dengan visi Indonesia dalam mewujudkan agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan.