Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) membuka pintu kolaborasi multi sektor antara negara Afrika Selatan dan Indonesia. Peluang kolaborasi berbagai sektor strategis antar negara itu kini telah terbuka lebar. LPPM UM telah menerima langsung kunjungan dari Department of Science, Technology and Innovation (DSTI) dan National Research Foundation (NRF) South Africa. Kemudian juga Future Earth Africa Hub Leadership Centre (FEAHLC) hingga International Science, Technology, and Innovation Centre (ISTIC) UNESCO yang berbasis di Malaysia.
Pertemuan bertajuk “Collaboration Metting UM-ISTIC-NFR-FEAHLC” itu dilangsungkan di gedung Graha Rektorat Universitas Negeri Malang, Sabtu (18/07/2025). Pertemuan tersebut juga menghadirkan perwakilan dari berbagai kampus di Jatim seperti UB, Unair, ITS, hingga Unesa. Usai membuka pertemuan itu, Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan upaya kampus dalam mewujudkan UM sebagai World Class University. Menurut dia, kampus UM sejak 3 tahun terakhir telah bekerja sama dengan ISTIC. Dari kerja sama itu, UM dan ISTIC ingin memperluas sinergi yang lebih besar, termasuk dengan Afrika Selatan. “Tentu kami ke depan akan mengajak perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, dan negara Afrika untuk membangun kolaborasi nyata mengembangkan potensi yang ada,” urainya pada Sabtu (19/07/2025).
Misalnya berkolaborasi dalam pengembangan riset di bidang pendidikan, energi, pangan dan air bersih, kemaritiman hingga humaniora. Dia berharap peluang kolaborasi itu bisa menumbuhkembangkan inovasi strategis masing-masing negara. Haryono mengatakan, Indonesia dan Afrika Selatan memiliki persamaan sejarah. Yakni sama-sama pernah dijajah Belanda. Uniknya, bahasa Belanda sempat menjadi bahasa nasional Afrika Selatan sebelum Inggris masuk. “Ini kan salah satu contoh dalam peluang aspek riset humaniora. Tadi mereka juga mengapresiasi riset UM yang mengolah air hujan menjadi air minum,” ucapnya. Pihaknya memastikan bahwa dampak kolaborasi ini nantinya juga untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa UM, termasuk mahasiswa kampus di Indonesia, Afrika, maupun Malaysia. Sementara itu, Kepala LPPM UM Prof Dr Markus Diantoro MSi menambahkan, pertemuan bertajuk Collaboration Metting UM-ISTIC-NFR-FEAHLC ini memiliki peluang besar untuk membuka keran kolaborasi multi sektor antara negara Afrika Selatan dan Indonesia. Usai pertemuan itu, Markus mengatakan, pihak Afrika Selatan tertarik dengan peluang kolaborasi multi sektor, selain riset di bidang pendidikan hingga energi. Dia menyebut ada lebih dari 10 peluang kolaborasi berbagai sektor yang dilirik.
“Awalnya kan kami menjelaskan 4 peluang kolaborasi, ternyata mereka juga tertarik dengan peluang lain. Ada lebih dari 10 sektor tadi yang membuat mereka terkejut. Karena kita kan ada sport siens hingga psikologi. Jadi peluangnya banyak. Awalnya kan tentang riset dan inovasi, tapi mereka juga terbuka untuk student exchange, riset exchange, sampai internasional konsorsium,” sambungnya. Menurut dia, Afrika Selatan sudah berkolaborasi di sejumlah sektor itu bersama Swis hingga Australia. Namun belum dengan Indonesia. “Jadi kita bisa memulai itu. Tentu ini akan menjadi tantangan bagi UM yang memiliki spirit World Calass University untuk membuka kran peluang kolaborasi berbagai sektor antar 2 negara ini,” ujarnya. Adapun langkah selanjutnya usai pertemuan ini, Markus menyampaikan, LPPM UM akan mendampingi rombongan pihak Afrika Selatan untuk bertemu dengan BRIN dan Menteri Diktisaintek RI. “Tentu kami akan menanti hasil pertemuan dengan BRIN dan Menteri Diktisaintek untuk mengambil langkah strategis selanjutnya,” ujarnya. Dia optimis kolaborasi besar antara negara Indonesia dan Afrika Selatan bisa terlaksana melalui langkah langkah ini. Dia juga berharap dampak peluang ini bisa berkembang ke negara negara Afrika dan Asia.
