MALANG – Bambu yang masih sedikit dilirik ternyata memiliki banyak manfaat besar di berbagai aspek dalam kehidupan. Hal ini terungkap dalam Sarasehan Jejak Hijau Bambu yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM). Bambu menjadi topik utama perbincangan dalam Sarasehan dengan tema utama “Universitas Negeri Malang dalam Jejak Hijau Bambu: Teknologi, Ekonomi Sirkular, dan Keberlanjutan Lingkungan”.Agenda ini mengundang tiga pembicara yang ahli dalam bidangnya, salah satunya Mastok Setyanto.

Mastok Setyanto sendiri merupakan Founder Bengkel Hijau Indonesia sehingga sangat berpengalaman tentang seluk beluk bambu. Dalam sesi materinya, menjelaskan tentang berbagai manfaat pada bambu untuk ketahanan pangan, ekonomi dan pelestarian lingkungan di Indonesia. Selain itu bambu dapat mensupport SDGs (Sustainable Development Goals) No. 1, 2, 6, 8 dan 9 yakni masing-masing fokus pada Tanpa Kemiskinan (1), Tanpa Kelaparan (2), Air Bersih dan Sanitasi Layak (6), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (8) dan Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (9).

Eli Hendrik Sanjaya, S.Si, M.Si, Ph.D, Kepala Pusat Sains dan Rekayasa LPPM UM, mengungkapkan bahwa pemilihan Mastok Setyanto sebagai narasumber adalah tidak lain karena pengalamannya yang sudah banyak di bidang bambu. “Kemudian Pak Mastok ini memang pegiat tanaman sudah lama dan sebenarnya sudah internasional. Dia sudah sering keliling keluar negeri sebagai expert.” ungkapnya di ruang Seminar Gedung Kuliah Bersama A20, Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (21/05/2025). Dalam salah satu slidenya, beliau menjelaskan tentang “Forest the last defense” atau hutan pertahanan terakhir. Hal ini beliau kaitkan dengan perjuangan Jendral Sudirman ketika mengitari mataram yang tetap kuat berjuang karena mengimplementasikan sistem ketahanan pangan di “Forest the last defense”. Dengan ini, Mastok Setyanto ingin menyampaikan bahwa belajar dari sejarah itu penting untuk kita bertahan di masa sekarang. “Banyak sebetulnya teknologi-teknologi pahlawan-pahlawan kita, nenek moyang kita, yang sudah sangat canggih. Nah sekarang kita adopsi, kita modernkan.” ujarnya.

Menurut Pak Mastok, Indonesia memiliki sumber daya bambu yang besar tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kalau misalnya bambu-bambu tersebut digunakan dengan baik, dapat diolah menjadi serat pakaian, makanan ternak, bahan konstruksi, hingga tepung. Tidak hanya untuk menghasilkan suatu produk, tetapi bambu juga bisa membantu memperbaiki ekosistem di sekitarnya. Hal ini dikarenakan bambu itu pasti ada tanaman pengikutnya, tidak bisa sendiri. “Kalau ada bambu, disitu ada aren. Di bawahnya aren ada pisang-pisangan. Di bawah pisang-pisangan ada pupuan. Sebetulnya, ini satu ekosistem yang Tuhan ciptakan luar biasa.” ucapnya.

Dengan kurangnya pemanfaatan sumber daya bambu inilah yang menggerakkan Pak Mastok Setyanto untuk melakukan mapping and monitoring yang sudah dilakukan 2014, 2015. Melalui kegiatan ini, nantinya akan dilakukan mapping potensinya dan pertumbuhannya yang nantinya akan dicatat. “Jadi mulai dari kalau di daerah saya banyak bambu apel, ya nanti gunanya untuk apa? pasarnya kayak apa? terus nanti ada karakteristik tanahnya.” ujarnya. Hasil mapping dan monitoring tadi, nantinya akan dijadikan handbook yang harapannya dapat digunakan oleh masyarakat luas, terutama penggiat bambu di Indonesia. “Ini akan kami jadikan pegangan, handbook untuk penggiat-penggiat bambu di Indonesia.” tambahnya. Pak Mastok juga mengajak akademisi berbagai bidang untuk ikut dalam melakukan riset dan membuat inovasi yang bermanfaat menggunakan bambu ini. Contohnya, riset spesies-spesies baru bambu dan inovasi organic glue dari tanaman bawaan bambu. “Nanti Mungkin ada teman-teman yang backgroundnya teknik industri atau mungkin bisa membuat organic glue, boleh nanti” ajaknya.